Kerajaan pada jaman dulu sangat dekat dengan kerajaan Hindu dan Budha itu terjadi akibat hubungan dagang antar beberapa Negara yakni India, Cina dan Wilayah Timur tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien
Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien
Pada abad 7 Muncullah 2 Kerajaan besar di jawa yakni Kerajaan Sriwijaya dan kerajaan majapahit. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya Read more…
Budaya, Kearifan Lokal Budaya, Kearifan Lokal
A
* Aceh: berada di wilayah utara dari pulau Sumatra, kesultanan Achin atau Atjeh didirikan pada akhir abad ke-15.
* Adonara: kerajaan yang berada di pulau pegunungan berapi yang bernama pulau Adonara di Kepulauan Sunda Kecil.
* Aga Nonsin
* Agang Nionjo
Read more…
Budaya, Bugis, Kearifan Lokal Budaya, Bugis, Kearifan Lokal
Terdapat hubungan yang istimewa antara Malaysia dengan Indonesia, terutama setelah Jusuf Kalla, yang berasal dari Bone (Bugis Bone) menjadi wakil presiden. Ia memiliki hubungan personal dengan Mantan Wakil PM Malaysia Tun Abdul Razak yang berdarah Bugis dan mendapat gelar adat dari Kerajaan Gowa.
Ketika ribut-ribut soal Ambalat, Presiden SBY mengutus Kalla untuk melakukan “diplomasi Bugis”. Hasilnya malah efektif.
Dalam rangka diplomasi Bugis itu pula, Kalla mendapatkan gelar doktor HC dari Universitas Kebangsaan Malaysia. Sebaliknya, Tun Razak mendapat gelar doktor dari Universitas Hasanuddin, almamater Kalla dan Read more…
Budaya, Bugis, Kearifan Lokal Budaya, Bugis, Kearifan Lokal
Dalam tahun 1714 M. Arumpone La Patau Matanna Tikka membuka arena penyabungan ayam dan mengundang seluruh TellumpoccoE (Bone, Soppeng dan Wajo). Datanglah Arung Matowa Wajo yang bernama La Salewangeng To Tenri Ruwa yang mengikutkan kemanakannya yang bernama La Maddukkelleng Daeng Simpuang Puanna La Tobo Arung Peneki. Arung Matowa Wajo yang bertaruh ayam dengan orang Bone dan ayam Arung Matowa Wajo sempat membunuh ayam orang Bone.
Karena pengawal Arumpone merasa malu, tiba-tiba seorang anak bangsawan Bone mengambil bangkai ayam tersebut dan melemparkan ketengah kelompok orang Wajo. Bangkai ayam tersebut kebetulan mengenai Arung Matowa Wajo yang berada ditengah-tengah orang Wajo. Hal ini membuat La Maddukkelleng marah dan Read more…
Budaya, Bugis, Kearifan Lokal Budaya, Bugis, Kearifan Lokal
Sekembalinya dari Timor, La Pasompereng Arung Teko langsung masuk ke Bone untuk menyampaikan kepada Arumpone La Patau Matanna Tikka bahwa dirinya telah kembali dari Timor. Sebagai Arumpone, La patau menerima kedatangannya, karena dianggap telah melaksanakan tugas dari Petta To RisompaE dalam membantu Kompeni Belanda memerangi Timor. Namun dalam hati La Patau tetap berpikir siapa tahu La Pasompereng akan menuntut -akkarungeng (Kedudukan sebagai Mangkau’)di Bone, karena dia juga sebagai putra mahkota.
Pada saat La Pasompereng berkunjung ke Saoraja menemui La Patau, ia langsung menerima berita tidak baik tentang isterinya yang berselingkuh dengan Sule DatuE di Soppeng yang bernama Daeng Mabbani. Isteri La Pasompereng yang bernama Karaeng BalakkaeriE adalah sudara dari KaraengE ri Gowa, sehingga Read more…
Budaya, Bugis, Kearifan Lokal Budaya, Bugis, Kearifan Lokal
Perjanjian ini diadakan oleh La Tenri Rawe BongkangE yang dimana menjabat sebagai Raja Bone yang ke 7 Pada Tahun 1568 – 1584 anak dari La Uliyo Bote’E menjadi Arumpone. La Tenri Rawe kawin dengan We Tenri Pakiu Arung Timurung MaccimpoE anak dari La Maddussila dengan isterinya We Tenri Lekke.
Untuk memperkuat kerjaan Bone La Tenri Rawe BongkangE menjalin hubungan kerja sama antara Kerajaan. adapun Kerajaan yang menjalin kerja sama pada perjanjian ini Kerjaan Wajo yang saat itu menjadi Raja Pada Kerjaan Wajo La Mungkace To Uddamang MatinroE ri Kanana dan Kerajaan Soppeng dengan Raja Bernama La Mappaleppe PatolaE Arung Belo MatinroE ri Tanana yang di adakan pertemuan di Bunne - Timurung. Datanglah Arumpone, diikuti oleh seluruh Palili Bone. Datang juga Arung Matowa Wajo yang bernama La Mungkace To Uddamang MatinroE ri Kanana. Selanjutnya datang juga Datu Soppeng yang bernama La Read more…
Budaya, Bugis, Kearifan Lokal Budaya, Bugis, Kearifan Lokal
1. Upacara Masa Kehamilan
Makkatenni sanro (menghubungi dukun) :
Upacara penyampaian kepada dukun yang telah dipilih berdasarkan musyarawah kedua keluarga, atau nasehat dari masyarakat dan orang tua. Jika pemilihan dukun disetujui maka dukun tersebut akan diberikan kepercayaan untuk merawat ibu dan bayinya nanti.
Mappanre to-mangideng (menyuapi ibu hamil) :
Adalah upacara yang dilakukan pada bulan pertama masa kehamilan, atau dalam suku bugis disebut mangngideng ata ngidam. Biasanya dilalui dengan bermacam acara. Selain itu diberikan pantangan untuk makan makanan tertentu dan melakukan perbuatan tertentu, baik untuk calon ibu maupun calon ayah.
Maccera Wettang (mengurut perut) :
Yaitu upacara yang dilakukan pada waktu usia kandungan memasuki bulan ketujuh, biasa juga dilakukan saat usia kandungan memasuli bulan-bulan terakhir. Upacara ini dilakukan dirumah calong ibu yang dihadiri Read more…
Budaya, Bugis Budaya, Bugis
Recent Comments