<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Lagaligo</title>
	<atom:link href="http://lagaligo.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lagaligo.net</link>
	<description>Personal Blog, Budaya Dan Tutorial Blogging</description>
	<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 14:00:57 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
	<language>en</language>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Sejarah Makassar : Tentang Benteng Rotterdam</title>
		<link>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-makassar-tentang-benteng-rotterdam/</link>
		<comments>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-makassar-tentang-benteng-rotterdam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 14:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Bugis]]></category>

		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>

		<category><![CDATA[Karifan Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lagaligo.net/?p=826</guid>
		<description><![CDATA[Benteng Rotterdam.Di Makassar ada satu benteng besar yang berdiri megah, namanya Fort Rotterdam. Jangan bayangkan lokasi benteng ini berada jauh diluar kota, dan kita harus menghabiskan waktu sekian jam untuk duduk dimobil berkecepatan tinggi, karena lokasi benteng ini terletak didalam kota Makassar sehingga cukup mudah untuk mencapainya.
Benteng dengan halaman seluas dua kali Museum Fatahilah Jakarta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Benteng Rotterdam.Di Makassar ada satu benteng besar yang berdiri megah, namanya Fort Rotterdam. Jangan bayangkan lokasi benteng ini berada jauh diluar kota, dan kita harus menghabiskan waktu sekian jam untuk duduk dimobil berkecepatan tinggi, karena lokasi benteng ini terletak didalam kota Makassar sehingga cukup mudah untuk mencapainya.<br />
Benteng dengan halaman seluas dua kali Museum Fatahilah Jakarta ini letaknya didepan pelabuhan laut kota Makasar atau ditengah pusat perdagangan sentral kota. Apabila kita menginap di area seputar pantai Losari, maka jaraknya dalam kisaran radius 2 km-an saja. Dari jalan raya, Fort Rotterdam yang juga akrab disebut benteng Ujungpandang (nama lain dari Makassar) akan mudah dikenali karena sangat mencolok dengan arsitektur era 1600 an yang berbeda dengan rumah dan kantor diseputarnya. Temboknya hitam berlumut <span id="more-826"></span>kokoh menjulang hampir setinggi 5 meter, dan pintu masuknya masih asli seperti masa jayanya. Dari ketinggian, bentuk benteng seperti bentuk totem penyu yang bersiap hendak masuk kedalam pantai.</p>
<p style="text-align: justify;">Memasuki pintu utamanya yg berukuran kecil, kita akan segera disergap oleh nuansa masa lalu. Tembok yang tebal sangat kokoh, pintu kayu, gerendel kuno, akan terlihat jelas. Masuk ke benteng sebetulnya tidak dipungut bayaran, karena area didalam benteng tidak dijadikan museum cagar budaya yg kosong melompong. Benteng Rotterdam dijadikan kantor pemerintah yakni Pusat Kebudayaan Makassar, sehingga suasana seram yang biasa kita jumpai dilokasi tua semacam ini tidak begitu kental karena masih dijumpai manusia berseliweran kian kemari. Karena area ini dipakai sebagai kantor, sehingga kebersihan dan kerapihan lingkungan disana masih terawat cukup baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Benteng ini awalnya dibangun tahun 1545 oleh raja Gowa ke X yakni Tunipallangga Ulaweng. Bahan baku awal benteng adalah tembok batu yang dicampur dengan tanah liat yang dibakar hingga kering. Bangunan didalamnya diisi oleh rumah panggung khas Gowa dimana raja dan keluarga menetap didalamnya. Ketika berpindah pada masa raja Gowa ke XIV, tembok benteng lantas diganti dengan batu padas yang berwarna hitam keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehadiran Belanda yang menguasai area seputar banda dan maluku, lantas menjadikan Belanda memutuskan untuk menaklukan Gowa agar armada dagang VOC dapat dengan mudah masuk dan merapat disini. Sejak tahun 1666 pecahlah perang pertama antara raja Gowa yang berkuasa didalam benteng tersebut dengan penguasa belanda Speelman. Setahun lebih benteng digempur oleh Belanda dibantu oleh pasukan sewaan dari Maluku, hingga akhirnya kekuasaan raja Gowa disana berakhir. Seisi benteng porak poranda, rumah raja didalamnya hancur dibakar oleh tentara musuh. Kekalahan ini membuat Belanda memaksa raja menandatangani “perjanjian Bongaya” pada 18 Nov 1667.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikemudian hari Speelman memutuskan utk menetap disana dengan membangun kembali dan menata bangunan disitu agar disesuaikan dengan kebutuhan dalam selera arsitektur Belanda. Bentuk awal yg mirip persegi panjang kotak dikelilingi oleh lima bastion, berubah mendapat tambahan satu bastion lagi di sisi barat. Nama benteng diubah pula menjadi Fort Rotterdam, tempat kelahiran Gub Jend Belanda Cornelis Speelman.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu obyek wisata yang terkenal disini selain melihat benteng, adalah menjenguk ruang tahanan sempit Pangeran Diponegoro saat dibuang oleh Belanda sejak tertangkap ditanah Jawa. Perang Diponegoro yg berkobar diantara tahun 1825-1830 berakhir dengan dijebaknya Pangeran Diponegoro oleh Belanda saat mengikuti perundingan damai. Diponegoro kemudian ditangkap dan dibuang ke Menado, lantas tahun 1834 ia dipindahkan ke Fort Rotterdam. Dia seorang diri ditempatkan didalam sebuah sel penjara yang berdinding melengkung dan amat kokoh. Diruang itu ia disedikana sebuah kamar kosong beserta pelengkap hidup lainnya seperti peralatan shalat, alquran, dan tempat tidur. Banyak kemudian yang meyakini bahwa Diponegoro wafat di Makassar, lalu ia dikuburkan disitu juga. Tapi ada pendapat lain mengatakan, mayat Diponegoro tidak ada di Makassar. Begitu ia wafat Belanda memindah ia ketempat rahasia agar tidak memicu letupan diantara pengikut fanatiknya di Jawa atau disitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://southcelebes.wordpress.com/2008/06/24/sekilas-sejarah-tentang-benteng-rotterdam/">southcelebes.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-makassar-tentang-benteng-rotterdam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya Makassar : Tari Pakarena Dari Makassar</title>
		<link>http://lagaligo.net/2008/11/budaya-makassar-tari-pakarena-dari-makassar/</link>
		<comments>http://lagaligo.net/2008/11/budaya-makassar-tari-pakarena-dari-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 12:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lagaligo.net/?p=824</guid>
		<description><![CDATA[Memang tak ada orang yang tahu persis sejarah Pakarena. Tapi dari cerita-cerita lisan yang berkembang, tak diragukan lagi tarian ini adalah ekspresi kesenian rakyat Gowa.
Menurut Munasih Nadjamuddin yang seniman Pakarena, tarian Pakarena berawal dari kisah mitos perpisahan penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dulu. Sebelum detik-detik perpisahan, boting langi mengajarkan penghuni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Memang tak ada orang yang tahu persis sejarah Pakarena. Tapi dari cerita-cerita lisan yang berkembang, tak diragukan lagi tarian ini adalah ekspresi kesenian rakyat Gowa.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Munasih Nadjamuddin yang seniman Pakarena, tarian Pakarena berawal dari kisah mitos perpisahan penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dulu. Sebelum detik-detik perpisahan, boting langi mengajarkan penghuni lino mengenai tata cara hidup, bercocok tanam, beternak hingga cara berburu lewat gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki. Gerakan-gerakan inilah yang kemudian <span id="more-824"></span>menjadi tarian ritual saat penduduk lino menyampaikan rasa syukurnya kepada penghuni boting langi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seni yang berdimensi ritual, Pakarena terus hidup dan menghidupi ruang batin masyarakat Gowa dan sekitarnya. Meski tarian ini sempat menjadi kesenian istana pada masa Sultan Hasanuddin raja Gowa ke-16, lewat sentuhan I Li’motakontu, ibunda sang Sultan. Demikian juga saat seniman Pakarena ditekan gerakan pemurnian Islam Kahar Muzakar karena dianggap bertentangan dengan Islam. Namun begitu tragedi ini tidak menyurutkan hati masyarakat untuk menggeluti aktifitas yang menjadi bagian dari hidup dan kehidupan yang menghubungkan diri mereka dengan Yang Kuasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Belakangan ini tangan-tangan seniman kota dan birokrat pemerintah daerah (pemda) telah menyulap Pakarena menjadi industri pariwisata. Dengan bantuan tukang seniman standar estetika diciptakan melalui sanggar-sanggar agar bisa dinikmatin orang luar. Untuk mendongkrak pendapatan daerah, alasannya. Sebagian seniman mengikuti standar resmi dan memperoleh fasilitas pemda. Tapi sebagian seniman lain enggan mengikuti karena dianggap tidak sesuai tradisi adat setempat, meski menanggung resiko tidak memperoleh dana pembinaan pemda atau tidak diundang dalam pertunjukan-pertunjukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dg Mile (50 tahun), misalnya. Seniman Pakarena asal desa Kalase’rena, Kec. Barang lompo ini tergolong teguh pendirian. Ia biasanya mencari berbagai cara berkelit untuk tidak menghadiri undangan departemen pariwisata. Kadang beralasan sedang ada acara ritual sendiri di kampungnya atau menghadiri sunatan dan pengantin tetangganya, atau kalau pun tidak bisa menolak maka ia akan menuntut syarat agar teman-temannya tidak terlantar usai pertunjukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Cara lain yang agak berbeda ditunjukkan Sirajuddin Bantam. Anrong guru Pakarena dari Gowa ini terang-terangan menolak tampil jika ada pejabat yang mau mendikte tampilan penarinya. Bahkan saat diminta tampil, ia tidak segan mempertanyakan lebih dulu keperluan pertunjukan itu dan sejauh mana menguntungkan teman-temannya. Karena ia tahu ada jenis tarian yang bisa dipertontonkan dan mana yang hanya bisa tampil di acara-acara tertentu. Sirajuddin juga kadang ngibulin pejabat yang menuntut tampilan tertentu dengan tiba-tiba mengubah sendiri skenario tarian di atas panggung.</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap yang ditempuh para seniman ini memang bukan tanpa resiko. Mereka harus merawat tradisi Pakarena dengan hidup pas-pasan tanpa bantuan pemerintah. Hanya dengan kreatifitas saja mereka bisa bersaing dengan seniman kota yang menikmati fasilitas dan kesejahteraan jauh di atas rata-rata.</p>
<p style="text-align: justify;">Kecerdikan ini misalnya dipunyai Sirajuddin dan Dg Mile. Sirajuddin mendokumentasikan sendiri tarian Pakarena dan lalu memperkenalkannya ke publik sampai mancanegara. Tentu saja dia dan para seniman kampung yang bersamanya juga mengkreasi Pakarena ini. Tapi ia sungguh menyadari mana tarian yang bisa dikreasi dan mana yang tidak. “Royong yang biasa dipakai ritual, tak perlu ditampilkan. Hanya pakarena Bone Balla yang ditampilkan,” ujar pemilik sanggar tari Sirajuddin ini, sembari menjelaskan bahwa Bone Balla biasa dipertontonkan kerajaan untuk menyambut para tamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, Dg Mile yang juga pemilik sanggar Tabbing Sualia ini lebih memilih tampil sendiri tanpa bergantung sama pemda. Paling banter dia dan kelompoknya hanya mau tampil bila bekerja sama dengan LSM tertentu yang peduli terhadap kesenian rakyat. ”Selama ini saya lebih suka main dengan Latar Nusa ketika mau menampilkan kesenian Pakarena di dalam dan di luar negeri,” kata Dg Mile menyebut nama LSM itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah, rupanya kaum seniman memiliki pengertian beda mengenai Pakarena. Orang macam Dg Mile dan Sirajuddin menyadari, Pakarena yang ”dipasarkan” pemda selama ini cenderung terpisah dari kehidupan, tradisi, dan makna yang diimajinasikan komunitas. Proses itu hanya menguntungkan seniman kelas menengah di kota dan kepentingan tertentu di pemerintahan. Seperti keinginan pemda mengubah pakaian penari tradisi di Sulsel agar sesuai dengan norma agama tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jelas ini melahirkan kerisauan. Dg Mile sampai-sampai menjelaskan berulangkali kalau Pakarena tidaklah syirik karena ditujukan kepada Yang Kuasa. Sirajuddin pun meminta agar para agamawan tidak menggunakan syariat yang formalis saja dalam menilai kesenian, tapi menggunakan hakikat atau tarekat. “Jika pemahaman mereka benar, tidak ada kesenian kita yang bertentangan dengan agama,” ujar Sirajuddin, sambil mencontohkan istilah passili dalam Pakarena yang berarti memerciki para seniman dan peralatannya dengan sejumput air agar membawa keberuntungan, selaras dengan agama. ”Lalu mana lagi yang harus diberi warna atau nuansa agama,” kata Sirajuddin mengakhiri argumentasinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau sudah begini, soalnya menjadi tergantung siapa yang menafsir. Kebenaran kembali ada dalam keyakinan para penghayatnya. Bukan elit agama atau birokrasi yang kerap memonopoli makna.[Liputan oleh Syamsurijal Adhan]</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap batinnya hening, penuh kelembutan, dedikatif, itulah kesan yang tersirat dari gemulainya gerakan penari ini. Tari Pakarena yang dibawakan penari ini adalah tarian kas masyarakat Sulawesi Selatan. Setiap penari harus melakukan upacara ritual adat yang disebut jajatang, dengan sesajian berupa beras, kemeyan dan lilin. Ini dimaksudkan untuk memperoleh kelancaran sepanjang pertunjukan berlangsung.</p>
<p style="text-align: justify;">Pakarena adalah bahasa setempat berasal dari kata Karena yang artinya main. Sementara ilmu hampa menunjukan pelakunya. Tarian ini mentradisi di kalangan masyarakat Gowa yang merupakan wilayah bekas Kerajaan Gowa.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini dulunya, pada upacara-upacara kerajaan Tari Pakarena ini dipertunjukkan di Istana. Namun dalam perkembangannya, Tari Pakarena ini lebih memasyarakat di kalangan rakyat. Bagi masyarakat Gowa, keberadaan Tari Pakarena tidak bisa dilepaskan dari kehidupan mereka sehari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelembutan mendominasi kesan pada tarian ini. Tampak jelas menjadi cermin watak perempuan Gowa sesungguhnya yang sopan, setia, patuh dan hormat pada laki-laki terutama terhadap suami.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan lembut si penari sepanjang tarian dimainkan, tak urung menyulitkan buat masyarakat awam untuk membedakan babak demi babak. Padahal tarian ini terbagi dalam 12 bagian. Gerakan yang sama, nyaris terangkai sejak tarian bermula. Pola gerakan yang cenderung mirip dilakukan dalam setiap bagian tarian.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya pola-pola ini memiliki makna khusus. Gerakan pada posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir Tarian Pakarena. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam. Menunjukkan siklus kehidupan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan. Aturan mainnya, seorang penari Pakarena tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar. Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Hal ini berlaku sepanjang tarian berlangsung yang memakan waktu sekitar dua jam.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak salah kalau seorang penari Pakarena harus mempersiapkan dirinya dengan prima, baik fisik maupun mental. Gerakan monoton dan melelahkan dalam Tari Pakarena, sedikit banyak menyebabkan kaum perempuan di Sulawesi Selatan, tak begitu berminat menarikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalaupun banyak yang belajar sejak anak-anak, tidak sedikit pula yang kemudian enggan melanjutkannya saat memasuki jenjang pernikahan. Namun tidak demikian halnya seorang Mak Joppong. Perempuan tua yang kini usianya memasuki 80 tahun ini, adalah seorang pelestari tari klasik Pakarena.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia seorang maestro tari khas Sulawesi Selatan ini. Ia seorang empu Pakarena. Mak Joppong sampai sekarang masih bersedia memenuhi undangan. Untuk tampil menarikan Pakarena yang digelutinya sejak usia 10 tahun ini. Disebut-sebut, perempuan inilah yang mampu menarikan Pakarena dengan utuh, lengkap dengan kesakralannya sebagai sebuah tarian yang mengambarkan kelembutan perempuan Gowa.</p>
<p style="text-align: justify;">Mak Joppong tak pernah mau ambil pusing dengan bayaran yang diterimanya. Dedikasi penuh pada tarian ini, membuatnya rela menerima seberapapun besarnya bayaran yang diberikan si pengundang.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal selepas ditinggal suaminya wafat, kehidupannya banyak bergantung pada kesenian yang telah lama diusungnya ini. Namun biasanya, ia menerima bayaran sekitar 500 ribu hingga 1 juta rupiah, untuk tampil semalam suntuk, termasuk biaya sewa pakaian dan alat-alat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh yang sudah renta termakan usia. kulit yang semakin keriput sejalan perjalanan hidup, tak membuatnya surut dalam berkarya bersama Tari Pakarena. Bahkan untuk membagi kebisaan yang didapat dari ayahnya ini. Ia sejak tahun 1978, mengajarkan Tari Pakarena kepada para gadis di kampungnya di Desa Kambini, Kecamatan Palangga, Kabupaten Gowa.</p>
<p style="text-align: justify;">Di rumahnya, yang merupakan rumah panggung kas Gowa yang disebut Balarate, para gadis melangkah, melengok, mengerakan tangannya mengikuti gerak si empu Pakarena Mak Joppong.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini ada 6 gadis yang menjadi anak didiknya, dan tak sepeserpun, Mak Joppong memunggut biaya. Tari Mak Joppong amat terasa sedih disaat salah seorang anak didiknya memasuki jenjang pernikahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena biasanya, usai menikah, anak didiknya tak lagi menekuni Tari Pakarena. Sebuah kebiasaan di Gowa, adalah hal yang tabu dan malu, bila seorang perempuan yang telah menikah tampil di muka umum.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandangan umum inilah yang menyebabkan Tari Pakarena seolah hanya selesai sampai di situ. Padahal tidak demikian buat Mak Joppong, Pakarena adalah Tarian sakral yang tidak semua perempuan mampu menarikannya. Ketekunan dan kesabaran menjadi modal utama buat Penari Pakarena. Itulah salah satunya yang dimiliki Mak Joppong hingga kini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini nasib Tari Pakarena seolah hanya bersandar pada Mak Joppong semata. Selain hanya ia yang paham akan seluk beluk tarian ini, ia pula lah yang tetap setia mengusung tari tradisional yang pernah jaya di masa kerajaan Gowa dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Penari Pakarena, begitu lembut mengerakan anggota tubuhnya. Sebuah cerminan wanita Sulawesi Selatan. Sementara iringan tetabuhan yang disebut Gandrang Pakarena, seolah mengalir sendiri. Hentakannya yang bergemuruh, selintas tak seiring dengan gerakan penari. Gandrang Pakarena, adalah tampilan kaum pria Sulawesi Selatan yang keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Tarian Pakarena dan musik pengiringnya bak angin kencang dan gelombang badai. Terang musik Gandrang Pakarena bukan hanya sekedar pengiring tarian. Ia juga sebagai penghibur bagi penonton. Suara hentakan lewat empat Gandrang atau gendang yang ditabuh bertalu-talu ditimpahi tiupan tuip-tuip atau seruling, para pasrak atau bambu belah dan gong, begitu mengoda penontonya.</p>
<p style="text-align: justify;">Komposisi dari sejumlah alat musik tradisional yang biasanya dimainkan 7 orang ini, dikenal dengan sebutan Gondrong Rinci. Pemain Gandrang sangat berperan besar dalam musik ini. Irama musik yang dimainkan sepenuhnya bergantung pada pukulan Gandrang. Karena itu, seorang pemain Gandrang harus sadar bahwa ia adalah pemimpin dan ia paham akan jenis gerakan Tari Pakarena.</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya selain jenis pukulan untuk menjadi tanda irama musik bagi pemain lainnya, seorang penabuh Gandrang juga mengerakan tubuh terutama kepalanya. Ada dua jenis pukulan yang dikenal dalam petabuhan Gandrang.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang pertama adalah pukulan Gundrung yaitu pukulan Gandrang dengan menggunakan stik atau bambawa yang terbuat dari tanduk kerbau. Yang kedua adalah pukulan tumbu yang dipukul hanya dengan tangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Gemuruh suara yang terdengar dari sejumlah alat musik tradisional Sulawesi Selatan ini, begitu berpengaruh kepada penonton. Mereka begitu bersemangat, seakan tak ingat lagi waktu pertunjukan yang biasanya berlangsung semalam suntuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Semangat inipula yang membuat para pemain musiknya semakin menjadi. Waktu bergulir, hentakan Gandrang Pakarena terus terdengar. Namun entah sampai kapan Gandrang Pakarena akan terus ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Nasibnya amat bergantung pada Tarian Pakarena sendiri yang kini masa depannya seolah hanya berada di tangan Mak Joppong. Muda-mudahan semangatnya tak akan pudar, seiring dengan irama musiknya yang mencerminkan kerasnya lelaki Sulawesi Selatan. (Sup)</p>
<p style="text-align: justify;">_________________________________________</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://southcelebes.wordpress.com/2008/08/11/profil-tari-pakarena-makassar/">southcelebes.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lagaligo.net/2008/11/budaya-makassar-tari-pakarena-dari-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Raja dan Kerajaan di Simalungun</title>
		<link>http://lagaligo.net/2008/11/raja-dan-kerajaan-di-simalungun/</link>
		<comments>http://lagaligo.net/2008/11/raja-dan-kerajaan-di-simalungun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 10:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lagaligo.net/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang). Demikian pula halnya dalam mengurai asal muasal masyarakat Simalungun, yang banyak berpijak dan tergantung pada aspek <span id="more-822"></span>diaspora masyarakat Batak (Toba) sehingga, raja dan kerajaan di Simalungun itu dinyatakan berasal dari Batak (Toba).</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, secara struktur dan organisasi sosial, terdapat perbedaan yang sangat jelas antara kedua suku Batak tersebut, sehingga tidak dengan begitu saja menarik kesimpulan bahwa suku Simalungun merupakan diaspora Batak Toba yang sukses di perantauan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para penulis seperti JV. Vergouwen, Washinton Hutagalung, JR. Hutauruk, Batara Sangti maupun MO. Parlindungan yang kontroversial itu. Yang sangat mengesankan, jika bukan ironis adalah bahwa penulis Simalungun banyak pula yang mengutip pendapat tersebut sebagai sebuah fakta kebenaran tanpa melakukan penggalian lebih lanjut seperti yang dilakukan oleh TBA Purba Tambak dalam bukunya Sejarah Simalungun maupun oleh MD. Purba dalam berbagai bukunya yang diterbitkan untuk kalangan sendiri. Akibatnya, sejarah kebudayaan Simalungun menjadi rapuh dan tidak dapat berdiri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Simalungan Dalam Literatur<br />
Dalam masyarakat Simalungun tidak terdapat begitu banyak literatur (pustaha) yang mengisahkan tentang riwayat kerajaan tersebut sehingga mengalami kesulitan dalam rekonstruksinya kemudian. Hanya saja, berdasarkan sejarah lisan yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya bahwa setidaknya tiga fase yang disebutkan di atas pernah hidup, berkuasa dan memerintah. Sejarah lisan tersebut, agaknya menjadi pedoman bagi bangsa Eropa seperti Tideman (1922) untuk mengurai Simalungun dalam laporannya sebagai penguasa pada saat itu dan juga bagi penulis Simalungun berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karenanya, masing-masing penulis sejarah di Simalungun membuat rekonstruksi sendiri atas kemauan sendiri dan kepentingan sendiri tanpa terikat waktu, tempat dan ruang. Akibatnya, sejarah tersebut sulit diterima secara umum dan apalagi dipergunakan sebagai rujukan dalam penulisan-penulisan demi kepentingan akademik ilmiah berikutnya.<br />
Jika kemudian terdapat literatur yang mengetengahkan tentang kebudayaan Simalungun, yakni sejarah dan perkembangannya, maka hampir dapat dipastikan bahwa tulisan itu banyak mengadopsi pendapat-pendapat yang banyak ditulis oleh non Simalungun, dan tulisan itu pula banyak bersinggungan dengan pengaruh Agama Kristen yang dilakukan oleh rohaniawan Kristen Simalungun.</p>
<p style="text-align: justify;">Literatur dari masa lampau Simalungun yang masih ada hingga saat ini seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (Hikayat Nagur), Partikkian Bandar Hanopan (Hikayat Silau), Partikian Panai Bolah (hikayat Panai) serta beberapa literatur yang disusun kembali serta ditransliterasi latin oleh JE. Saragih dalam pustaha lak-lak. Menurut Marim Purba, jumlah keseluruhan literatur yang membahas Simalungun, baik dari segi sejarah masa lampau dan masa kini, baik yang ada di luar negeri (Belanda) maupun di Museum Simalungun tak lebih dari 150 judul. Kesulitan lain dari beberapa pustaha tersebut adalah tidak memiliki angka tarikh (tahun) sehingga mengalami kegagalan dalam rekonstruksi kronologis kesejarahannya. Kenyataan ini sangat menyulitkan dalam rekonstruksi sejarah kebudayaan Simalungun berikutnya seperti yang banyak diakui oleh para penulis Simalungun masa kini. Oleh karena itu, diperlukan penggalian mendalam serta penelusuran secara herastik sehingga pelurusan sejarah tersebut dapat dilakukan kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Leluhur Simalungun<br />
Dalam sejarah masyarakat Batak (Toba) seperti yang telah banyak diketahui bahwa masyarakat Batak (Toba) adalah keturunan Siraja Batak yang beranak cucu kemudian menyebar ke berbagai penjuru di Sumatera Utara seperti Mandailing Angkola, Pak-pak Dairi, Karo, Simalungun dan Toba serta Nias. Belakangan, Nias menyatakan bahwa mereka bukan keturunan dari Siraja Batak berdasarkan perbedaan fisik dan budaya lainnya. Dengan begitu, ke lima sub etnik itu adalah merupakan diaspora dari Batak (Toba) yang menyebar ke berbagai wilayah di kawasan itu. Keadaan lain adalah adanya klaim, penarikan garis keturunan (genealogis) berdasarkan marga (clan) yang mengacu pada klan Batak (Toba) dimana semua klan yang ada pada sub etnik Batak tersebut seolah-olah memiliki kemiripan dan kesamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam penguraian sejarah moety masyarakat Batak seperti yang dilakukan oleh BA Simanjuntak dipaparkan bahwa leluhur nusantara (juga Batak) berasal dari dataran tinggi Yunan dekat hulu Sungai Mekong di Cotte dan Napur Hindia Belakang. Kemudian dengan alasan tertentu melakukan migrasi ke berbagai wilayah dan sebagian di antaranya tiba di wilayah nusantara yang menghuni wilayah pantai. Gelombang yang pertama memasuki wilayah nusantara (sebahagian tiba di Sumatera Utara) ini disebut dengan Protomelayu (Melayu dalam). Selanjutnya, dalam rentang waktu tertentu, gelombang migrasi serupa juga terjadi yang disebut dengan Deutromelayu (Melayu luar). Gelombang yang kedua serta memiliki peradaban yang lebih tinggi ini, kemudian mendesak protomelayu ke pedalaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara signifikan, dapat ditarik korelasi dimana gelombang yang pertama masuk itu pastilah berdiam di Selat Malaka, kemudian mereka terdepak ke daerah pedalaman oleh gelombang migrasi berikutnya hingga ke kawasan Simalungun. Dengan begitu, gelombang yang masuk ke Simalungun pun dapat dinyatakan mengalami dua gelombang, yakni gelombang proto Simalungun dan deutro Simalungun sampai pada akhirnya terbentuk neo Simalungun pasca revolusi berdarah 1946. Dengan begitu, kondisi ini lebih memungkinkan dan hampir mendekati kebenaran sejalan dengan sejarah penyebaran ras-ras umat manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejalan dengan itu, sesuai dengan pendapat Uli Kozok (1992) (Profesor Filologi berkebangsaan Belanda) yang mengurangi bahwa di antara bahasa-bahasa Batak, bahasa Simalungun adalah bahasa yang lebih dulu terbentuk, maka asumsi ini menjadi masukan yang sangat berharga untuk merekonstruksi kembali sejarah Simalungun. Bahasa Simalungun lebih dekat dengan Bahasa Mandailing, dan lebih jauh jika dibanding dengan Bahasa Batak Toba, Karo ataupun Pak-pak. Itu berarti bahwa, kemungkinan suku bangsa Simalungun adalah suku yang pertama ada dibanding suku Batak lainnya. Kendati demikian, penggalian serta penelusuran yang lebih mendalam tentang hal ini senantiasa dilakukan sebagai upaya pelurusan sejarah, khususnya pada masyarakat kebudayaan Simalungun.</p>
<p style="text-align: justify;">Monarki Simalungun<br />
Dalam literatur Simalungun (pustaha laklak) seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (pustaka tertua di Simalungun) yang mengisahkan hikayat kerajaan Nagur (kerajaan Tertua di Simalungun dinasti Damanik) dikisahkan bahwa sewaktu raja Nagur yakni Sormaliat ingin memiliki istri sekaligus sebagai puang bolon (permaisuri) dari putri pamannya (marboru tulang) yang ada di Negeri Padang Rapuhan. Untuk rencana ini, raja memerintahkan utusannya berangkat menuju negeri yang dituju untuk memberitahukan rencana tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk sampai di negeri tujuan, dibutuhkan perjalanan selama tiga (bulan) dengan berjalan kaki. Berarti, dibutuhkan waktu selama enam bulan untuk kembali ke tempat semula yakni di negeri Hararasan (Kerasaan sekarang) tempat Kerajaan Nagur berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan estimasi dan kalkulasi tertentu, maka kemungkinan negeri yang dituju adalah Mataram Lama (Medang Faihbhumi). Kejadian itu diperkirakan berlangsung sekitar tahun 550 M bersamaan dengan kejayaan kerajaan Mataram Lama pada waktu itu. Hal ini tentu saja sangat beralasan dimana terdapat kesamaan struktur kerajaan yang sama seperti di Jawa. Di Sumatera hal sedemikian tidak diketemukan dan apalagi di Sumatera Utara. Jika seandainya Padang Rapuhan yang dimaksud dalam hikayat itu adalah negeri Padang (Tebing Tinggi), maka perjalanan yang dibutuhkan tentulah tidak selama itu. Lagi pula, kota Tebing Tinggi tersebut yang dibuka oleh keturunan klan Saragih berkisar tahun 1200-an.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, berdasarkan penuturan yang terdapat pada hikayat Parpadanan na Bolak tersebut dapat diketemukan bahwa asal usul monarhi (kerajaan) di Simalungun tersebut telah bersentuhan dengan kerajaan yang ada di Pulau Jawa pada saat itu. Keadaan ini juga dipertegas dengan berbagai asumsi penulis Eropa, bahwa pengaruh Jawa telah ada dan berkembang di kawasan ini terbukti dengan penamaan salah satu area (Tanah Djawa) di Simalungun. Lagi pula, terdapat berbagai kesamaan dalam hal perangkat kebudayaan seperti pemakaian destar (gotong dan Bulang) dalam khasanah adat. Di samping itu, juga telah bersentuhan dengan pengaruh Sinkretis (Hindu-Jawa) seperti permainan Catur, meluku sawah dan lain-lain. Hal yang paling mengesankan adalah bahwa hewan korban dalam perangkat adat istiadatnya adalah ternak ayam.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini berarti bahwa, keadaan dimana kerajaan di Simalungun telah mengambil corak modern seperti layaknya sebuah negara yang memiliki perangkat-perangkat tertentu. Keadaan seperti ini tidak dimiliki suku lain seperti Tapanuli (Utara), Karo, Pak-pak, Mandailing Angkola sungguhpun mereka itu mengenal konsep raja. Dengan demikian, konsep raja dan kerajaan yang telah lama berdiri di Simalungun merupakan peninggalan dalam kebudayaannya sebagai dampak persentuhannya dengan budaya lain (Hindu-Jawa). Kendatipun pada akhirnya, kerajaan itu hancur dan lebur akibat peristiwa berdarah di Sumatera Timur yang lebih dikenal dengan peristiwa revolusi sosial, dimana pada saat itu, golongan bangsawan dikejar dan dibunuh serta pembakaran istana sebagai dampak economic lag yang terjadi antar kelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Keadaan seperti ini bukan semata-mata bertujuan untuk memutus mata rantai integritas serta harmoni kesukuan tetapi yang lebih dipentingkan adalah bagaimana sejarah itu dapat ditegakkan. Karena dari sanalah kita dapat mencapai fakta dan kebenaran sejarah sehingga tidak terjadi pengebirian sejarah di kemudian hari.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Erond Litno Damanik MSi</strong><br />
Penulis: Pemerhati Pendidikan dan Pembangunan Sosial Direktur: Center for Cultural Study and Rural Community Development/The Simetri/d</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : Harian SIB</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lagaligo.net/2008/11/raja-dan-kerajaan-di-simalungun/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Kerajaan Mempawah</title>
		<link>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-kerajaan-mempawah/</link>
		<comments>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-kerajaan-mempawah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 08:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lagaligo.net/?p=820</guid>
		<description><![CDATA[Johan Wahyudi
Borneo Tribune, Mempawah
Sebelum terkenalnya Kerajaan Mempawah yang dikenal dengan Istana Amantubillah dan Opu Daeng Manambon, telah ada jauh kebelakang kerajaan Dayak yang ketika itu sangat populer dikenal di Kalimantan Barat. Dan apabila akan mencoba menuliskan sebuah kerajaan di Kalimantan Barat sebelah Barat khususnya, maka tidak dapat dilepaskan kaitan dan rangkaiannya dengan penduduk aslinya yaitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Johan Wahyudi<br />
Borneo Tribune, Mempawah</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum terkenalnya Kerajaan Mempawah yang dikenal dengan Istana Amantubillah dan Opu Daeng Manambon, telah ada jauh kebelakang kerajaan Dayak yang ketika itu sangat populer dikenal di Kalimantan Barat. Dan apabila akan mencoba menuliskan sebuah kerajaan di Kalimantan Barat sebelah Barat khususnya, maka tidak dapat dilepaskan kaitan dan rangkaiannya dengan penduduk aslinya yaitu Suku Dayak yang mula pertama menjadi raja dan penguasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana dituturkan penulis sejarah Kerjaan Mempawah, Ellyas Suryani Soren, ditemui dikediamannya di Jalan Gusti Ibrahim Safiudin, Gang Berkat I, MempawahHilir, Minggu (23/12), kemarin, mengatakan, masuknya Agama Islam di Indonesia pada akhir abad ke 13 sekitar 1292 lalu, melalui Pulau Sumatera bagian Utara (Aceh), yang meluas sampai ke Pulau Jawa, maka berangsur-angsur runtuhlah kerajaan besar Majapahit<span id="more-820"></span> yang terpusat di Pulau Jawa. Dan terdapatlah pulau besar yang belum pernah disentuh oleh penyebaran Agama Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kerajaan Melayu (Islam) di Kalimantan Barat tumbuh sebelum Imperium Melaka jatuh ketangan Portugis pada abat ke 16, sebagaimana diketahui adanya kerajaan Mempawah, Kerajaan Sambas, Kerajaan Matan (Ketapang) dan sejumlah kerajaan kecil di daerah pedalama,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan sebuah Kerajaan Melayu di Kalimantan Barat, khususnya Sambas dan Mempawah, termasuk Ketapang tidak terlepas dari kontribusi pahlawan-pahlawan Bugis yang memainkan peran di kepulauan Riau dan Tanah Semenanjung.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kerajaan mempawah lebih dikenal pada masa Pemerintahan Opu Daeng Manambon yaitu sejak 1737-176, sebenarnya kerajaan Mempawah itu sudah ada sebelumnya diperkirakan sejak tahun 1380,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lanjutnya lagi pertama kali Kerajaan Mempawah berdiri, pusat pemerintahannya bukanlah terletak di Mempawah seperti yang dilihat bekas-bekas peninggalannya sekarang. Tetapi pusatnya terletak di Pegunungan Sidiniang (Mempawah Hulu). Kerajaan yang terkenal pada saat itu adalah Kerajaan Suku Dayak, adapun penguasa dari kerajaan suku Dayak adalah Patih Gumantar. Pada Kerajaan Patih Gumantar disebut kerajaan Bangkule Rajakng, ibukotanya ditetapkan di Sadiniang, bahkan kerajaannya dinamakan Kerajaan Sadiniang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pada masa kekuasaan Patih Gumantar, Kerajaan Bangkule Rajakng berada dalam era kejayaan,” ucapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga kerajaan tetangga yang ingin merebutnya yaitu Kerajaan Suku Biaju (Bidayuh) di Sungkung, maka terjadi perang kayau mengayau (memenggal kepala manusia). Meskipun Patih Gumantar sangat berani, namun dengan adanya serangan mendadak. Patih Gumantar kalah dan kepalanya terkayau (terpenggal) oleh orang-orang Suku Bidayuh, sejak kematian Patih Gumantar kerajaan Bangkule Rajakng mengalami kehancuran.</p>
<p style="text-align: justify;">“Beberapa abad kemudian kira-kira tahun 1610, Kerajaan Suku Dayak bangkit kembali di bawah kekuasaan Raja Kudong dan pusat pemerintahannya dipindahkan ke Pekana (sekarang dinamakan Karangan), namun berdirinya kerajaan ini tidak ada hubungannya dengan Patih Gumantar,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lanjutnya lagi, setelah Raja Kudong wafat pemerintahan diambil alih oleh Raja Senggaok dari pusat kerajannya dipidahkan ke Senggaok ( masih di hulu Sungai Mempawah). Raja Senggaok lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Senggaok yang mempunyai istri bernama Puteri Cermin yaitu salah satu puteri Raja Qahar dari kerajaan Baturizal Indragiri Sumatera dan mereka dikarunia seorang anak yang diberi nama Mas Indrawati.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pada saat perkawinan raja Senggaok dan Puteri Cermin, diramalkan seorang ahli nujum apabila kelak lahir seoarang anak perempuan dari hubungan mereka maka kerajaan tersebut akan diperintah oleh seorang raja yang berasal dari kerajan lain. Ketika usia Mas Indarwati telah cukup dewasa, ia dikawinkan dengan Sulthan Muhammad Zainuddin dari Kerajaan Matan (Ketapang). Dan dari perkawinan tersebut, mereka dikaruniai seorang puteri berparas cantik yang diberi nama Puteri Kesumba,” paparnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ramalan ahli nujum terhadam Raja Senggaok dan Pitri Cermin apabila kelak lahir seoarang anak perempuan dari hubungan mereka maka kerajaan tersebut akan diperintah oleh seorang raja yang berasal dari kerajan lain ternyata menjadi kenyataan</p>
<p style="text-align: justify;">“Ternyata apa yang diramalkan ahli nujum itu benar adanya. Setelah berakhir pemerintahan Raja Senggaok. Kerajaan Mempawah diperintah oleh Raja Opu Daeng Manambon pelaut ulung dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan,” kata Ellyas Suryani Soren melanjutkan ceritanya yang pernah ditulisnya dalam buku Legenda dan Cerita Rakyat Mempawah.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka dari itu, Ellyas menjelaskan, Opu Daeng Manambon bukanlah orang Kaliamantan asli, beliau beserta keempat adik-adiknya berasal dari Kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan. Mereka dikenal sebagai pelaut-pelaut ulung dan pemberani. Mereka meninggalkan tanah kelahirannya merantau mengarungi lautan luas menuju Banjarmasin, Betawi, berkeliling sampai Johor, Riau, Semenajung Melayu akhirnya sampai pula di daerah Kerajaan Tanjungpura (Mantan).</p>
<p style="text-align: justify;">“Dalam perantauannya, kelima bersaudara tersebut banyak membantu kerajaan-kerajaan kecil yang sedang mengalami kesulitan. Kesulitan seperti terlibat pada suatu peperangan, baik perang saudara ataupun baru diserang kerajaan lain. Karena kebiasaan tersebut dan sifat suka menolong terhadap pihak yang lemah inilah mereka terkenal sampai dimana-mana,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan terbukti apa yang dilakukan kelima saudara tersebut ketika datang di Kerajaan Tanjungpura. Pada saat itu Kerajaan Tanjungpura sedang terjadi perang saudara, disebabkan adik kandung Sultan Muhammad Zainuddin yang bernama Pangeran Agung menyerang Sultan Muhammad Zainuddin. Kelima saudara tersebut berhasil membantu memadamkan pemberontakan dan perampasan tahta kerajaan dari Pangeran Agung. Bahkan Opu daeng Manambon berhasil mempersunting Puteri Sultan Muhammad Zainuddin yaitu Puteri Kesumba cucu dari Panembahan Senggaok.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dari perkawinan Opu Daeng Manambon dengan Putri Kesumba, lahirlah sepuluh orang putra puteri, tetapi yang paling terkenal yaitu Utin Chandramidi dan Gusti Jamiril atau Panembahan Adijaya Kesuma Jaya,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lanjutnya lagi kertika Opu Daeng Manambon sampai di Senggaok, diadakan serah terima dari Pangeran Adipati kepada Opu Daeng Manambon, karena Opu Daeng Manambon adalah cucu menantu Panembahan Senggaok. Sehingga Opu Daeng Manambon memangku jabatan Raja Mempawah yang ke tiga dandia memindahkan pusat Kerajaan Mempawah di Sebukit Rama ( kira-kira 10 Km ) dari Kota Mempawah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pemerintahan yang dilaksanakan Opu Daeng Manambon berjalan lancar beliau termasuk seorang raja yang bijaksana dan penduduknya beragama Islam serta taat. Selain itu Opu Daeng Manambon ini selalu bermusyawarah dengan bawahannya dalam memecahkan segala persoalan di kerajaan,” tuturnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang diuraikan diatas tadi, dari kesepuluh putra-putri Opu Daeng Manambon hanya putrinya Utin Chandramidi adalah istri Sultan Abdurrahman Alkadrie, raja pertama Kerajaan Pontianak sehingga nama tersohornya sampai saat ini. Sedangkan putranya Gusti Jamiril atau Panembahan Adijaya Kesuma Jaya, selain dia sebagai raja pengganti ayahnya, juga lebih terkenal itu dengan Raja yang paling anti dengan penjajah (Belanda) dengan sumpahnya, jasadnya diharamkan untuk dimakamkan di tanah yang di injak oleh Penjajah Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Opu Daeng Manambon wafat tanggal 26 Syafar 1175 Hijriah dan dimakamkan di Sebukit Rama yang selalu diramai dikunjungai masyarkat baik dari Kota Mempawah maupun daerah lain. Dimana kawasan makam Opu Daeng Manambon akan dikembangan menjadi kawasan wisata sejarah Kabupaten Pontianak. Dan ada keunikan yang ada disekitar makam dimana jumlah tangga selalu berubah dan setiap orang yang menghitung jumlahnya tidak akan pernah sama dengan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">“Setelah wafat Opu Daeng Manambon maka tampuk kerajaan diserahkan kepada Gusti Jamiril anaknya yang bergelar Panembahan Adijaya Kesuma Jaya. Dimana pada masa pemerintahannya, Kerajaan Mempawah selalu bertempur melawan Belanda. Dan masa pemerintahan Gusti Jamiril pula, kerajaan Mempawah mengalami masa keemasan,” kata Ellyas Suryani Soren yang menjabat sebagai Sekretaris Majelis Adat Budaya Melayau Kabupaten Pontianak.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena Panembahan Adijaya Kesuma mampu memimpin Kerajaan Mempawah dengan baik, kerajaannya menjadi suatu kerajaan yang makmur, akan tetapi beliau diifitnah membenci dan mau memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Tentunya Belanda murka dan mengerahkan ratusan prajuritnya yang bermarkas di Pontianak untuk menyerang Kerajaan Mempawah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Melihat situasi yang tidak baik, akhirnya Panembahan Adijaya Kesuma mengambil keputusan memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mempawah di Karangan yang letaknya di Mempawah Hulu,” katanya</p>
<p style="text-align: justify;">Keputusan tersebut diambil karena pada masa itu hubungan baik komunikasi maupun transportasi dari Mempawah ke Karangan sangat sulit sehingga gerakan pasukan Belanda menuju Karangan berjalan lamban sekali. Selain itu kebencian Panembahan Adijaya Kusuma terhadap penjajah Belanda semakin menjadi-jadi,” kata pria setengah baya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun Panembahan Adijaya Kesuma sampai wafatnya terus berusaha mengusir Belanda. tetapi belum juga berhasil. Sebelum wafat beliau beramanah apabila meninggal dunia beliau tidak rela dikuburkan di luar kota Karangan, karena beliau tidak rela jenazahnya dijamah oleh Belanda. Dan setelah Gusti Jamiril (Panembahan Adijaya kesuma) wafat, jabatan raja diserahkan kepada anaknya Gusti Jati dan bergelar Sultan Muhammad Zainal Abidin dan kedudukannya adalah di Mempawah yang berarti bahwa beliaulah sebagai pendiri kota Mempawah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian sebagai pengantinya setelah Sultan Muhammad Zainal Abidin meninggal digantikan oleh adiknya Gusti Amir yang bergelar Panembahan Adinata Karma Oemar Kamaruddin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Setelah beliau wafat tampuk kekuasaan diserahkan kepada anaknya Panembahan Mukmin. Namun ajal ditangan Allah SWT memang manusia punya rencana, tetapi Allah SWT juga yang menentukan segalanya, karena setelah selesai penobatan Panembahan Mukmin wafat dan sebab itu dia disebut Raja Sehari,” ucapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian sebagai penggantinya adalah adiknya bernama Gusti Mahmud dan bergelar Panembahan Muda Mahmud. Panembahan Usman putera dari Panembahan Mukmin, kemudian naik tahta kerajaan setelah Panembahan Muda Mahmud mangkat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Panembahan Usman ketika dia menjadi raja bergelar Panembahan Usman Natajaya Kesuma dan mangkat pada tanggal 6 Jumadil Awal tahun 1280 Hijriah di makamkan di Pulau Pedalaman,” ujarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah wafat Panembahan Usman, maka yang memegang tampuk Kerajaan Mempawah adalah putera Panembahan Muda Mahmud bernama Panembahan Ibrahim Muhammad Tsafiudin, pada saat pemerintahan Panembahan Ibrahim Muhammad Tsafiudin inilah, Belanda mulai lagi menyakiti hati rakyat Mempawah sehingga tahun 1941 timbul pemberontakan Suku Dayak terhadap Belanda. Apalagi Belanda sudah mulai menggunakan kekerasan dan memaksa rakyat membayar pajak. Dan peristiwa ini disebut Perang Sangking, jelas rakyat Mempawah pada waktu itu mulai antisipasi terhadap Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian setelah Panembahan Ibrahim Muhammad Tsafiudin ini wafat, maka semulanya pimpinan kerajaan akan diserahkan kepada Puteranya Gusti Muhammad Taufik, tetapi karena puteranya ini belum dewasa, maka kerajaan dipimpin sementara oleh Pangeran Ratu Suri kakak dari Gusti Muhammad Taufik sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa tahun kemudian, Gusti Muhammad Taufik naik tahta pada tahun 1902 M dan kemudian bergelar Panembahan Muhammad Taufik Accamaddin. Dua tahun 1944, Panembahan Muhammad Taufik Accamaddin ini ditangkap oleh Jepang, bersama-sama Raja-raja daerah lainnya serta para Pemimpin Pemuka Masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian 12 kepala Swapraja beserta tokoh-tokoh masyarakat lainnya yang ditangkap Jepang yang akan memberontak terhadap rezim “Pemerintah Bala Bantuan Tentara Jepang” tersebut semuanya dihukum mati.<br />
Korban pembunuhan Jepang pada waktu itu tidak kurang dari 21.037 orang. Dan sebagian dari pada korban tersebut dikuburkan di Mandor dalam semak belukar.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau meninggalkan empat orang putera-puteri, yaitu Pangeran Mohammad yang sekarang dikenal dengan nama Drs. H. Jimmi Mohammad Ibrahim, kedua Pangeran Feitsal Taufik, Pangeran Abdullah dan Panggeran Taufikiah.<br />
Pada masa kedudukan Jepang, dibentuklah Bestuur Komisi sebagai pengganti Raja yang diketuai oleh Pangeran Wiranata Kesuma (Tahun 1944-1946).</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum pendaratan pasukan sekutu di Kalimantan Barat, Pangeran Mohammad yang baru berusia 13 tahun pernah diangkat sebagai tokoh (Panembahan) Mempawah oleh Pemerintah Bala Tentara Jepang dalam suatu upacara di depan Gedung Kerapatan.<br />
Dan kemudian dilakukan upacara penobatan oleh tokoh-tokoh masyarakat, pada tahun1946 Belanda (NICA) datang kembali ke Mempawah dam mencoba mengangkat Panembahan (Raja) lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena pada waktu itu Panembahan Pangeran Mohammad (Drs. Jimmi Mohammad Ibrahim) belum dewasa dan ingin melanjutkan sekolahnya, karena pada waktu itu baru duduk di kelas V SD (Jokio Ko Gakko), meskipun sudah pernah dinobatkan secara formil menjadi Panembahan, tetapi tidak bersedia diangkat kembali, maka diangkatlah Gusti Musta’an sebagai Raja sementara dengan gelar “Wakil Panembahan” sampai tahun 1957. Setelah Pangeran Mohammad dewasa, kemudian beliau menyatakan diri tidak bersedia diangkat sebagai Raja menggantikan ayahnya, dan masih tetap ingin melanjutkan sekolahnya di Perguruan Tinggi Gajah Mada di Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan disinilah berakhirnya kepemimpinan kerajaan Mempawah, dan sejarah menunjukan bahwa Kerajaan Mempawah sejak berdiri hingga berakhir sudah mengalami perpindahan pusat Kerajaan sampai 5 (lima) kali. Daerah-daerah yang pernah ditempati sebagai pusat pemerintahannya adalah, Pengunungan Sidiniang, Pekana, Senggaok, Sebukit Rama, dan Mempawah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan ini dibagi atas 2 (dua) zaman, yaitu zaman Hindu dan Islam. Pada zaman Hindu Pemerintahan Kerajaan Dayak dalam kekuasaan Patih Gumantar pusat pemerintahannya terletak di Pegunungan Sidiniang, Raja Kudong pusat pemerintahannya terletak di Pekana (Karangan), Panembahan Senggaok pusat pemerintahannya terletak di Senggaok.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan pada zaman Islam dipimpin oleh Opu Daeng Manambon bergelar Pangeran Mas Surya Negara, Gusti Jamiril bergelar Panembahan Adijaya Kesuma Jaya, Syarif Kasim bin Abdurrahman Alkadrie, Syarif Hussein bin Abdurrahman Alkadrie, Gusti Jati bergelar Sulthan Muhammad Zainal Abidin, Gusti Amir bergelar Panembahan Adinata Krama Umar Kamaruddin, Gusti Mukmin bergelar Panembahan Mukmin Natajaya Kesuma, Gusti Mahmud bergelar Panembahan Muda Mahmud Accamaddin, Gusti Usman bergelar Panembahan Usman, Gusti Ibrahim bergelar Panembahan Ibrahim Muhammad Tsafiuddin dan Gusti Taufik bergelar Panembahan Taufik Accamaddin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-kerajaan-mempawah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Di Daerah Jawa - Indonesia</title>
		<link>http://lagaligo.net/2008/11/peninggalan-peninggalan-kerajaan-di-daerah-jawa-indonesia/</link>
		<comments>http://lagaligo.net/2008/11/peninggalan-peninggalan-kerajaan-di-daerah-jawa-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 06:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lagaligo.net/?p=818</guid>
		<description><![CDATA[Kerajaan Salakanagara
Salakanagara, berdasarkan Naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (yang disusun sebuah panitia dengan ketuanya Pangeran Wangsakerta) diperkirakan merupakan kerajaan paling awal yang ada di Nusantara.
Tokoh awal yang berkuasa di sini adalah Aki Tirem. Konon, kota inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150, terletak di daerah Teluk Lada Pandeglang.
Raja pertama Salakanagara bernama Dewawarman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Kerajaan Salakanagara</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Salakanagara, berdasarkan Naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (yang disusun sebuah panitia dengan ketuanya Pangeran Wangsakerta) diperkirakan merupakan kerajaan paling awal yang ada di Nusantara.</p>
<p style="text-align: justify;">Tokoh awal yang berkuasa di sini adalah Aki Tirem. Konon, kota inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150, terletak di daerah Teluk Lada Pandeglang.</p>
<p style="text-align: justify;">Raja pertama Salakanagara bernama Dewawarman yang berasal dari India. Ia mula-mula menjadi duta negaranya (India) di Pulau Jawa. Kemudian Dewawarman menjadi menantu Aki Tirem atau Sang Aki Luhurmulya. Istrinya atau anak Aki Tirem bernama Pohaci Larasati. Saat menjadi raja Salakanagara, Dewawarman I ini dinobatkan dengan nama Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara. Rajatapura adalah ibukota Salakanagara yang hingga tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-Raja <span id="more-818"></span>Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII).</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Jayasinghawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Maurya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di kemudian hari setelah Jayasinghawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumangara. Salakanagara kemudian berubah menjadi Kerajaan Daerah.</p>
<p style="text-align: justify;">Cat : bukti fisik berupa prasasti mengenai Salakanagara belum ditemukan. Sumbernya hanya merupakan hipotesa dari pernyataan Ptolemeus tentang Argyre dan Naskah Wangsakerta.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kerajaan Tarumanagara</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara diketahui melalui sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa 7 buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa Kerajaan Tarumanegara dibangun oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman tahun 358 M dan beliau memerintah sampai yahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomatri (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.</p>
<p style="text-align: justify;">Cat :Prasasti yang berkaitan dengan kerajaan Tarumanagara sebagian besar ditulis dengan Huruf Pallawa dengan bahasa Sansekerta. Dan sebagian ditulis dengan menggunakan aksara ikal yang sampai sekarang belum bisa dibaca (diketahui artinya).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kerajaan Kalingga</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalingga adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Tengah, yang pusatnya berada di daerah Kabupaten Jepara sekarang. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandi Minyak, yang kemudian menjadi raja ke 2 dari Kerajaan Galuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ke 3 dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732M).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Maharani Shima mangkat di tahun 732M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti / Wangsa Sanjaya di<strong> Kerajaan Mataram Kuno.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Cat : bukti tentang Kalingga hanya diketahui dari sumber-sumber China yang menyebut Holing untuk Keling yang dikemudian hari dikenal sebagai Kalingga dan Naskah Wangsakerta. Bukti fisik berupa prasasti sampai sekarang belum ditemukan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kerajaan Mataram Kuno</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kerajaan Mataram kita kenal dari sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Canggal (barat daya Magelang). Prasasti ini berangka tahun 732 M, ditulis dengan huruf Pallawa dan digubah dalam bahasa Sanskerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Çiwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Daerah ini letaknya di sebuah pulau yang mulia, Yawadwîpa, yang kaya raya akan hasil bumi, terutama padi dan emas.</p>
<p style="text-align: justify;">Raja Sanjaya berdasarkan Prasasti Canggal(732 M), merupakan pendiri dari Wangsa Sanjaya yang bertahta di Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Menurut Prasasti Canggal (732 M), ia adalah kemenakan dari Sanna, penguasa sebelumnya. Raja Sanjaya mendirikan candi-candi untuk memuja Dewa Siwa. Sanjaya juga belajar agama Hindu Siwa dari para pendeta yang ia panggil.</p>
<p style="text-align: justify;">Sanjaya meninggal pada pertengahan abad ke-8 dan kedudukannya di Mataram digantikan oleh Raka Panangkaran((760-780), dan terus berlanjut sampai masa Dyah Wawa (924-928), sebelum digantikan oleh Mpu Sindok(929) dari Wangsa Isyana.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengganti Rakai Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang (tahun 886-898), lalu raja Balitung/Rakai Watukura yang bergelar sri Iswarakesawotsawatungga (tahun 898-910), merupakan raja pertama yang memerintah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam hal ini ada kemungkinan bahwa Kanjuruhan-prasasti Dinoyo ditaklukkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Istilah Rakai pada zaman ini identik dengan Bhre pada zaman Majapahit, yang bermakna “penguasa di”. Jadi, gelar Rakai Panangkaran sama artinya dengan “Penguasa di Panangkaran”. Nama aslinya ditemukan dalam prasasti Kalasan, yaitu Dyah Pancapana.</p>
<p style="text-align: justify;">Cat : Kerajaan Mataram Kuno diperintah secara bergantian oleh Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Prasasti yang ditinggalkan ditulis dalam huruf Pallawa berbahasa Sanksekerta.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kerajaan Kanjuruhan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Prasasti Dinoyo merupakan peninggalan yang unik karena ditulis dalam huruf Jawa Kuno dan bukan huruf Pallawa sebagaimana prasasti sebelumnya. Keistimewaan lain adalah cara penulisan tahun berbentuk Condro Sangkala berbunyi Nayana Vasurasa (tahun 682 Saka) atau tahun 760 Masehi. Dalam Prasasti Dinoyo diceritakan masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di desa Dinoyo (barat laut Malang) diketemukan sebuah prasasti berangka tahun 760, berhuruf Kawi dan berbahasa Sanskerta, yang menceritakan bahwa dalam abad VIII ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan (sekarang desa Kejuron) dengan raja bernama Dewasimha dan berputra Limwa (saat menjadi pengganti ayahnya bernama Gajayana), yang mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk dewa Agastya dan diresmikan tahun 760. Upacara peresmian dilakukan oleh para pendeta ahli Weda (agama Siwa). Bangunan kuno yang saat ini masih ada di desa Kejuron adalah Candi Badut, berlanggam Jawa Tengah, sebagian masih tegak dan terdapat lingga (mungkin lambang Agastya).</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Prasasti Dinoyo diceritakan masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan sebagaimana berikut :</p>
<p style="text-align: justify;">* Ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja yang sakti dan bijaksana dengan nama Dewasimha<br />
* Setelah Raja meninggal digantikan oleh puteranya yang bernama Sang Liswa<br />
* Sang Liswa terkenal dengan gelar Gajayana dan menjaga Istana besar bernama Kanjuruhan<br />
* Sang Liswa memiliki puteri yang disebut sebagai Sang Uttiyana<br />
* Raja Gajayana dicintai para brahmana dan rakyatnya karena membawa ketentraman diseluruh negeri<br />
* Raja dan rakyatnya menyembah kepada yang mulia Sang Agastya<br />
* Bersama Raja dan para pembesar negeri Sang Agastya (disebut Maharesi) menghilangkan penyakit<br />
* Raja melihat Arca Agastya dari kayu Cendana milik nenek moyangnya<br />
* Maka raja memerintahkan membuat Arca Agastya dari batu hitam yang elok</p>
<p style="text-align: justify;">Prasasti Sangguran (Batu Minto) asal daerah Ngandat, Malang (Jawa Timur), yang pernah dibawa ke luar negeri oleh Stamford Raffles pada 1814, yang berasal dari abad ke-10. Prasasti Sangguran (Prasasti Minto), dikenal dengan ‘Lord Minto’ atau ‘Minto Stone’ untuk versi Skotlandia (Inggris) merupakan prasasti beraksara dan bahasa Jawa Kuno.</p>
<p style="text-align: justify;">Prasasti itu merupakan reruntuhan candi di desa Ngandat, Malang, dan dinilai sangat penting dari sisi historis, karena menjadi bagian sejarah peralihan dari kerajaan Mataram ke Jawa Timur.</p>
<p style="text-align: justify;">Prasasti Sangguran ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa kuno. Isi pokoknya adalah tentang peresmian Desa Sangguran menjadi sima (tanah yang dicagarkan) oleh Sri Maharaja Rakai Pangkaja dyah Wawa Sri Wijayaloka Namestungga pada 14 Suklapaksa bulan Srawana tahun 850 Saka. Jika dikonversi ke dalam tahun Masehi, maka identik dengan 2 Agustus 928.<br />
Prasasti tersebut menyebutkan pula nama Rakryan Mapatih I hino pu Sindok Sri Isanawikrama dan istilah sima kajurugusalyan di Mananjung. Yang menarik, sima tersebut ditujukan khusus bagi para juru gusali, yaitu para pandai (besi, perunggu, tembaga, dan emas). Isi prasasti seperti itu boleh dikatakan amat langka, jarang terdapat pada prasasti-prasasti lain yang pernah ditemukan di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahli epigrafi Boechari menafsirkan bahwa mungkin pada masa pemerintahan Raja Wawa ada sekelompok pandai atau seorang pemuka pandai, yang berjasa kepada raja. Pendapatnya didasarkan atas analogi dari kitab kuno Pararaton yang menyebutkan Mpu Gandring, tokoh yang dianggap pembuat keris legendaris, bersama keturunannya mendapat hak istimewa dari Sri Rajasa (Ken Arok) berupa anugerah sima kajurugusalyan (Sejarah Nasional Indonesia II, 1984).</p>
<p style="text-align: justify;">Di mata para epigraf, Prasasti Sangguran juga dianggap unik karena menyebutkan istilah rakryan kanuruhan. Menurut J.G. de Casparis, kanuruhan berasal dari nama kerajaan Kanjuruhan yang disebut dalam Prasasti Dinoyo (760 Masehi). Kerajaan itu pernah berpusat di sekitar Malang sekarang.<br />
Rupa-rupanya kerajaan Kanjuruhan itu pada suatu ketika ditaklukkan oleh raja Mataram. Namun keturunan raja-rajanya tetap berkuasa sebagai penguasa daerah dengan gelar rakryan kanuruhan. Oleh karena gelar kanuruhan ditemukan di antara tulisan-tulisan singkat pada salah satu gugusan Candi Loro Jonggrang (Prambanan), diperkirakan sebagai penguasa daerah, dia menyumbangkan candi perwara pada candi kerajaan itu. Sayangnya hubungan antara Prasasti Sangguran dengan Candi Prambanan, belum diteliti secara mendalam oleh para pakar.</p>
<p style="text-align: justify;">Cat : Prasasti Dinoyo unik, karena ditulis menggunakan huruf Jawa Kuno (Kawi) dan berbahasa Sanksekerta. Kerajaan Kanjuruhan, jika merujuk kepada tahun yang terdapat pada prasasti Dinoyo (760 M), berarti sejaman dengan Mataram Kuno pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran yang naik tahta pada tahun 760 menggantikan Sanjaya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kerajaan Medang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mpu Sindok, adalah raja terakhir dari Wangsa Sanjaya, yang berkuasa Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 928-929. Diduga karena letusan Gunung Merapi, pada tahun 929 Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Istana yang baru dibangun di Tamwlang (Tembelang) sekitar tahun 929, di tepi Sungai Brantas, sekarang kira-kira adalah wilayah Kabupaten Jombang (Jawa Timur). Kerajaan baru ini tidak lagi disebut Mataram, melainkan disebut Medang (meski beberapa literatur masih menyebut Mataram). Mpu Sindok juga merupakan pendiri Wangsa Isyana, sehingga kerajaan baru tersebut kadang juga disebut Isyana.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa Mahapralaya</p>
<p style="text-align: justify;">Kerajaan Medang runtuh tahun 1006 pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh (cicit Mpu Sindok). Peristiwa hancurnya istana Watan terkenal dengan sebutan Mahapralaya atau “kematian besar”.</p>
<p style="text-align: justify;">Kronik Cina dari Dinasti Sung mencatat telah beberapa kali Dharmawangsa Teguh mengirim pasukan untuk menggempur ibu kota Sriwijaya sejak ia naik takhta tahun 991. Permusuhan antara Jawa dan Sumatra semakin memanas saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 1006 Dharmawangsa Teguh lengah. Ketika ia mengadakan pesta perkawinan putrinya, istana Medang di Watan diserbu oleh Aji Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut, Dharmawangsa Teguh tewas.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga tahun kemudian, seorang pangeran berdarah campuran Jawa - Bali yang lolos dari Mahapralaya tampil untuk membangun kerajaan baru sebagai kelanjutan Kerajaan Medang. Pangeran itu bernama Airlangga yang mengaku bahwa ibunya adalah keturunan Mpu Sindok. Kerajaan yang ia dirikan kemudian lazim disebut dengan nama Kerajaan Kahuripan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://wiedjaya.wordpress.com/2008/05/05/sejarah-kerajaan-awal-di-pulau-jawa/">wiedjaya.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lagaligo.net/2008/11/peninggalan-peninggalan-kerajaan-di-daerah-jawa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Kerajaan Samalanga</title>
		<link>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-kerajaan-samalanga/</link>
		<comments>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-kerajaan-samalanga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 04:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lagaligo.net/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Kebesaran Kesultanan Islam Malaka hancur setelah Portugis menaklukkannya tahun 1511. Banyak pembesar kerajaan yang menyelamatkan diri ke kerajaan lainnya yang belum dijamah Portugis. Sebut saja Pahang, Johor, Pidie, Aru (Pulau Kampai), Perlak, Daya, Pattani, Pasai dan Aceh. Portugis berusaha menaklukkan kerajaan Islam yang kecil ini dan tanpa perlawanan yang berarti. Perkembangan tersebut membuat gundah Sultan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kebesaran Kesultanan Islam Malaka hancur setelah Portugis menaklukkannya tahun 1511. Banyak pembesar kerajaan yang menyelamatkan diri ke kerajaan lainnya yang belum dijamah Portugis. Sebut saja Pahang, Johor, Pidie, Aru (Pulau Kampai), Perlak, Daya, Pattani, Pasai dan Aceh. Portugis berusaha menaklukkan kerajaan Islam yang kecil ini dan tanpa perlawanan yang berarti. Perkembangan tersebut membuat gundah Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1530). Sultan berkeinginan untuk membebaskan negeri Islam di Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu ini dari cengkeraman Portugis. Keinginan Sultan didukung penuh oleh pembesar negeri Aceh dan para pencari suaka dari Melaka yang menetap di Bandar Aceh. Sultan <span id="more-816"></span>memproklamirkan Kerajaan Islam Aceh Darussalam pada tahun 1512, dengan visi utamanya menyatukan negeri kecil seperti Pedir, Daya, Pasai, Tamiang, Perlak dan Aru.<br />
Sultan Alaidin Ali Mughayatsyah berprinsip. “Siapa kuat hidup, siapa lemah tenggelam”. Karenanya dalam pikiran Sultan untuk membangun negeri yang  baru diproklamirkannya perlu penguatan di bidang politik, luar negeri, militer yang tangguh, ekonomi yang handal dan pengaturan hukum/ketatanegaraan yang teratur. Dengan strategi inilah, menurut pikiran Sultan, Kerajaan Islam Aceh Darussalam akan menjadi negara yang akan diperhitungkan dalam percaturan politik global, sesuai dengan masanya dan mampu mengusir Portugis dari negeri Islam di nusantara yang telah didudukinya. Dasar pembangunan kerajaan Islam Aceh Darussalam yang digagaskan Sultan Alaidin Ali Mughayatsyah dilanjutkan oleh penggantinya Sultan Alaidin Riayatsyah Alqahhar, Alaidin Mansyursyah, Saidil Mukammil dan Iskandar Muda. Aliansi dengan negara-negara Islam di bentuk, baik yang ada di nusantara maupun di dunia Internasional. Misalnya Turki, India, Persia, Maroko. Pada zaman inilah Aceh mampu menempatkan diri dalam kelompok “lima besar Islam” negara-negara Islam di dunia. Hubungan diplomatik dengan negeri nonmuslim pun dibina sepanjang tidak mengganggu dan bertentangan dengan asas-asas kerajaan (A. Hasyimy, Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah). Perseteruan kerajaan Aceh dengan Portugis terus berlangsung sampai tahun 1641. Akibatnya banyak anak negeri yang syahid baik itu di Aceh sendiri, Aru, Bintan, Kedah, Johor, Pahang dan Trenggano. Populasi penduduk Aceh menurun drastis. Sultan Iskandar Muda mengambil kebijakan baru dengan menggalakkan penduduk di daerah takluknya untuk berimigrasi ke Aceh inti, misalnya dari Sumatera Barat, Kedah, Pahang, Johor dan Melaka,Perak,Deli. Sultan Iskandar Muda menghancurkan Batu Sawar, Johor, pada tahun 1613. Seluruh penduduk Johor, termasuk Sultan Alauddin Riayatshah III, adiknya Raja Abdullah, Raja Raden dan pembesar- pembesar negeri Johor-Pahang seperti Raja Husein (Iskandar Thani), Putri Kamaliah (Putroe Phang) dan Bendaharanya (Perdana Mentri), Tun Muhammad kemudian dipindahkan ke Aceh. Sultan Iskandar Muda kemudian menjadikan Tun Sri Lanang sebagai raja pertama ke Samalanga atas saran dari putri Kamaliah. (A.K.Yakobi, Aceh Dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 1945-1949). Rotasi pimpinan ini sering ditempuh guna mencegah terjadinya pemberontakan raja-raja yang mendapat dukungan rakyat. Penobatan Tun Sri Lanang menjadi Raja Samalanga mendapat dukungan rakyat, karena disamping dia ahli dibidang pemerintahan juga alim dalam ilmu agama. Sultan Iskandar Muda mengharapkan dengan penunjukan tersebut akan membantu pengembangan Islam di pesisir Timur Aceh. Namun penunjukkan Tun Sri Lanang sebagai raja tidak serta merta berjalan mulus. Hal itu karena adanya tentangan dari beberapa tokoh masyarakat yang dipimpin oleh Hakim Peut Misei. Dia justru menginginkan kelompoknyalah yang berhak menjadi raja pertama Samalanga. Menurut kisah dan penuturan orang- orang tua di sana. Setelah Hakim Peut Misei dan sebelas orang pemuka negeri lainnya bersama rakyat setempat selesai membuka negeri Samalanga, lalu mereka bermusyawarah untuk menentukan siapa diantara mereka yang berhak menjadi raja pertama Samalanga. Diantara panitia yang terlibat dalam persiapan pengukuhan keuleebalangan Samalanga dan daerah takluknya, terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat. Demi mengatasi perselisihan tersebut, atas saran masyarakat, kedua belas orang panitia tersebut kemudian menghadap sultan Iskandar Muda. Mereka menyerahkan keputusan tersebut kepada sultan, yang akan menentukan pilihan terbaiknya untuk memimpin negeri pusat pendidikan Islam itu. Rencana dan kabar tersebut diam-diam sampai juga ketelinga Puteri Pahang. Dia mengetahui rencana pertemuan dua belas tokoh masyarakat yang akan menghadap sultan. Putri Pahang menginginkan ke-uleebalangan Samalanga dan daerah takluknya diisi oleh Datok Bendahara, yang bergelar Tun Sri Lanang, yang tak lain adalah saudaranya sendiri. Siasat pun diatur dan berbagai cara juga ditempuh. Lalu Tun Sri Lanang diperintahkan berlayar ke Samalanga, di sana dia harus berpura-pura sebagai seorang nelayan yang kumuh tetapi ahli melihat bintang. Berdasarkan rencana Putri Pahang, Tun Sri Lanang harus sampai duluan di Samalanga dan ke dua belas tokoh masyarakat tersebut diusahakan menggunakan jasa Tun Sri Lanang untuk berlayar ke Kuala Aceh menghadap Sultan. Pada hari yang telah di sepakati bersama, berangkatlah dua belas orang panitia menghadap sultan dengan didampingi seorang pawang dari kuala Samalanga menuju kuala Aceh. Ke dua belas orang itu kemudian bertemu dengan Sultan dan mengutarakan maksud dan tujuannya. Mereka lalu meminta kepada Sultan agar salah satu dari mereka dinobatkan menjadi uleebalang pertama Samalanga. Setelah meminta pendapat orang - orang besar kerajaan dan Puteri Pahang, Sultan setuju menobatkan salah satu dari mereka menjadi Raja pertama. Namun dengan satu syarat apabila cincin kerajaan yang telah disiapkan oleh Puteri Pahang cocok di jari kelingking mereka. Mereka lalu mecoba satu persatu di jari mereka, tetapi cincin kerajaan tersebut terlalu besar untuk dipakai pada jari ke ua belas orang tersebut. Puteri Pahang menanyakan pada mereka apa ada orang lain yang tidak dibawa ke balai rung Istana? Mereka dengan hati kesal menjawab memang masih ada tukang perahu. Tun Sri Lanang pun kemudian dihadapkan kehadapan Sultan. Dia mencoba cincin kerajaan itu, ternyata sangat cocok untuk jari kelingkingnya. Karena itu kemudian Sultan Iskandar Muda menobatkan Tun Sri Lanang menjadi Raja pertama Samalanga. Namun sewaktu mereka pulang, Tun Sri Lanang tiba-tiba dibuang di tengah laut di kawasan Laweung. Kejadian tersebut kemudian dikenal dalam masyarakat Samalanga sebagai Peristiwa Laut. Beruntung, Tun Sri Lanang berhasil diselamatakan oleh Maharaja Lela Keujroeun Tjoereh (Laweung). Setelah menyelamatkan Tun Sri Lanang, Maharaja Lela Keujroeun Tjoereh bersama T. Nek Meuraksa Panglima Nyak Doom menghadap Sultan. Mereka memberitahukan penemuan Tun Sri Lanang di tengah laut. Mendengar berita tersebut, Sultan sangat murka, dia kemudian memerintahkan Maharaja Goerah bersama T. Nek Meuraksa Panglima Nyak Doom dan Maharaja Lela Keujroeun Tjoereh menemani Tun Sri Lanang ke Samalanga. Hakim Peut Misee dan sebelas orang panitia persiapan keuleebalangan pun akhirnya dihukum pancung oleh sultan. Tun Sri Lanang menjadi Uleebalang pertama Samalanga pada tahun 1615-1659 M. Dia mangkat dan dimakamakan di desa Meunasah Leung Samalanga. Pada masa pemerintahannya, dia berhasil menjadikan Samalanga sebagai pusat pengembangan Islam di kawasan Timur Aceh. Tradisi itu terus berlanjut sampai sekarang. Samalanga menjadi kubu kuat Sultan Aceh terakhir, Sultan Muhammad Daud Syah menentang penjajahan Belanda. Disamping ahli pemerintahan, Tun Sri Lanang juga dikenal sebagai pujangga melayu. Karyanya yang monumental adalah kitab Sulalatus Salatin. MenurutWinstedt, kitab ini dikarang<br />
mulai bulan Februari 1614 dan selesai Januari 1615 sewaktu menjadi tawanan di kawasan Pasai. Ketika di Batu Sawar, Tun Sri Lanang sudah mulai menyusun penulisan sejarah Melayu berasaskan kitab Hikayat Melayu yang diberikan oleh Yang Dipertuan di Hilir, Raja Abdullah. Dia kembali menyambung pekerjaanya menyusun dan mengarang kitab sejarah Melayu tersebut di Aceh sampai lengkap. Apabila kita baca mukaddimah kitab ini, tidak jelas disebutkan siapa pengarang yang sebenarnya. Dan ini biasa dilakukan oleh pengarang -pengarang dahulu yang berusaha menyembunyikan penulis aslinya terhadap hasil karangannya. Bahkan menyebutkan dirinya sebagai fakir. Kalimat aslinya sebagai berikut : Setelah fakir allazi murakkabun ‘a;a jahlihi maka fakir perkejutlah diri fakir pada mengusahakan dia, syahadan mohonkan taufik ke hadrat Allah, Tuhan sani’il - ‘alam, dan minta huruf kepada nabi sayyidi’l ‘anam, dan minta ampun kepada sahabat yang akram; maka fakir karanglah hikayat ini kamasami’ tuhu min jaddi wa abi, supaya akan menyukakan duli hadrat baginda. Maka fakir namai hikayaat ini “ Sulalatus Salatin” yakni “pertuturan segala Raja-Raja”. Keturunan Tun Sri Lanang di Aceh yaitu Tun Rembau yang lebih dikenal dengan panggilan T. Tjik Di Blang Panglima Perkasa menurunkan keluarga Ampon Chik Samalanga sampai saat ini dan tetap memakai gelar Bendahara diakhir namanya seperti Mayjen T. Hamzah Bendahara. Sedangkan sebagian keturunannya kembali ke Johor dan menjadi bendahara (Perdana Menteri) disana seperti Tun Abdul Majid yang menjadi Bendahara Johor, Pahang Riau, Lingga (1688- 1697). Keturunan Tun Abdul Majid inilah menjadi zuriat Sultan Trenggano, Pahang, Johor dan Negeri Selangor Darul Ihsan hingga sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://acehjeumpa.multiply.com/journal/item/15/Serajah_Raja_Pertama_Kerajaan_Samalangahttp://acehjeumpa.multiply.com/journal/item/15/Serajah_Raja_Pertama_Kerajaan_Samalanga">acehjeumpa.multiply.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-kerajaan-samalanga/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Kerajaan Minang Kabau</title>
		<link>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-kerajaan-minang-kabau/</link>
		<comments>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-kerajaan-minang-kabau/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 02:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lagaligo.net/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[Tiga anak dari Raja Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung) dari Makadunia (Macedonia) iaitu Maharajo Alif, Maharajo Japang dan Maharajo Dirajo berlayar bersama, dan saat dalam perjalanan mereka bertengkar sehingga mahkota kerajaan jatuh ke dalam laut.
Maharajo Dirajo yang membawa Cati Bilang Pandai –seorang pandai emas- berhasil membuat satu serupa dengan mahkota yang hilang itu. Mahkota itu lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tiga anak dari Raja Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung) dari Makadunia (Macedonia) iaitu Maharajo Alif, Maharajo Japang dan Maharajo Dirajo berlayar bersama, dan saat dalam perjalanan mereka bertengkar sehingga mahkota kerajaan jatuh ke dalam laut.</p>
<p style="text-align: justify;">Maharajo Dirajo yang membawa Cati Bilang Pandai –seorang pandai emas- berhasil membuat satu serupa dengan mahkota yang hilang itu. Mahkota itu lalu ia serahkan kepada abang-abangnya, tetapi mereka mengembalikannya kepada Maharajo Dirajo karena ia dianggap yang paling berhak menerima, iaitu karena telah berhasil menemukannya. Mereka adik beradik lalu berpisah. Maharajo Alif meneruskan perjalanan ke Barat dan menjadi Raja di Bizantium, sedang Maharajo Japang ke Timur lalu menjadi menjadi Raja di China dan Jepang (Jepun), manakala Maharajo Dirajo ke Selatan sedang perahunya terkandas di puncak Gunung Merapi saat Banjir Nabi Nuh melanda. Begitu banjir surut, dari puncak gunung Merapi yang diyakini sebagai <span id="more-814"></span>asal alam Minangkabau turunlah rombongan Maharajo Dirajo dan berkampung disekitarnya. Mulanya wujud Teratak lalu berkembang menjadi Dusun lalu jadi Nagari lalu jadilah Koto dan akhirnya menjadi Luhak. Daerah Minangkabau yang asal adalah disekitar Merapi, Singgalang, Tandikat dan Saga. Semuanya terbagi atas 3 Luhak atau Luhak Nan Tigo. Luhak ini membawahi daerah Rantau. Jadi ada 3 luhak dengan 3 rantau :</p>
<p style="text-align: justify;">1. Luhak AGAM berpusat di BUKITTINGGI dengan Rantau PASAMAN<br />
2. Luhak TANAHDATAR berpusat di BATUSANGKAR dengan Rantau SOLOK<br />
3. Luhak LIMAPULUH KOTA berpusat di PAYA KUMBUH dengan Rantau KAMPAR</p>
<p style="text-align: justify;">Batas Alam Minangkabau menurut Tambo :</p>
<p style="text-align: justify;">“Dari Riak nan Badabua, Siluluak Punai Maif,<br />
Sirangkak nan Badangkuang, Buayo Putiah Daguak,<br />
Taratak Aie Hitam, Sikilang Aie Bangih , Hingga Durian Ditakuak Rajo”<br />
“Dari Riak nan Berdebur, Siluluk Punai Maif,<br />
Sirangkak nan Berdengkung, Buaya Putih Daguk,<br />
Teratak Air Hitam, Sikilang Air Bangis , Hingga Durian Ditekuk Raja”</p>
<p style="text-align: justify;">Tafsiran dari ‘Riak nan Berdebur’ adalah daerah Pesisir Pantai Barat iaitu wilayah dari Padang hingga Bengkulu; sedangkan ‘Teratak Air Hitam’ adalah Rantau Timur sekitar Kampar dan Kuantan (sekarang di Riau). Ini sesuai penjelasan bahwa selain 3 Luhak dan 3 Rantau diatas yang disebut ‘Darek” atau “Darat”, Minangkabau mempunyai daerah Rantau luar iaitu Rantau Pesisir Barat dan Rantau Timur dengan wilayah :</p>
<p style="text-align: justify;">1. RANTAU PESISIR BARAT (Pasisie Barek): Sikilang Air Bangis, Tiku Pariaman, Padang, Bandar Sepuluh, Air Haji, Inderapura, Kerinci (kini masuk Jambi) dan Muko-muko (Bengkulu).<br />
2. RANTAU TIMUR : Daerah hilir sungai-sungai besar Rokan, Siak, Tapung, Kampar dan Inderagiri (Kuantan), kesemuanya kini masuk di Riau.</p>
<p style="text-align: justify;">Asal-usulnya menurut Sejarawan<br />
Senarai kerajaan di Sumatra yang merupakan cikal-bakal Kerajaan Minangkabau mulai zaman Hindu-Budha Abad 7 adalah :<br />
1. KERAJAAN MALAYU (Melayu Tua) terletak di Muara Tembesi (kini masuk wilayah Batanghari, Jambi). Berdiri sekitar Abad 6 – awal 7 M<br />
2. KERAJAAN SRIWIJAYA TUA terletak di Muara Sabak (kini masuk masuk wilayah Tanjung Jabung, Jambi). Berdiri sekitar tengah Abad 7 – awal 8 M<br />
3. KERAJAAN SRIWIJAYA di Palembang, Sum. Selatan. Akhir abad 7 - 11 M<br />
4. KESULTANAN KUNTU terletak di Kampar, sekitar Abad 14 M<br />
5. KERAJAAN MALAYU (Melayu Muda) atau DHARMASRAYA terletak di Muara Jambi, abad 12-14 M. Tahun 1278 Ekspedisi Pamalayu dari Singasari di Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan membawa serta putri dari Raja Malayu untuk dinikahkan dengan Raja Singasari. Hasil perkawinan ini adalah seorang pangeran bernama Adityawarman, yang setelah cukup umur dinobatkan sebagai Raja Malayu. Pusat kerajaan inilah yang kemudian dipindahkan oleh Adityawarman ke Pagaruyung dan menjadi raja pertama sekitar tahun 1347</p>
<p style="text-align: justify;">PAGARUYUNG (1347-1809)<br />
Adityawarman meninggalkan banyak prasasti –terbanyak bahkan jika dibanding periode Raja-raja Sri Wijaya. Ia menyebut dirinya sebagai ‘Kanakamedinindra” (Penguasa Tanah Emas). Dan memang Kerajaan Pagaruyung menguasai perdagangan lada/rempah dan emas terutama di Rantau Timur dan dijual ke daerah luar melalui pesisir barat, dimana para pedagang datang dari Aceh Tamil, Gujerat dan Parsi untuk dijual di pasaran dunia. Secara berangsur-angsur kerajaan Pagaruyung mulai mundur kira-kira pada abad 15, sehingga peranan daerah Rantau Pesisir yang berupa kota-kota pelabuhan di pantai barat Sumatra justru semakin berkembang. Pada saat inilah Aceh yang tengah berada pada puncaknya masuk sekitar tahun tahun 1640 disertai masuknya ajaran Islam. Pada akhir abad 16, Pagaruyung sudah tidak utuh lagi, kekuasaan raja tidak mutlak.<br />
Yang Dipertuan Pagaruyung sebagai Raja Alam membahagi kekuasaannya pada 2 Raja yang lain iaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo, dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus. Kesatuan tiga raja disebut “Rajo Nan Tigo Selo”. Sedangkan yang menjalankan kekuasaan Lembaga eksekutif -disebut “Baca Ampek (Empat) Balai”- terdiri 4 Datuk dengan 1 Datuk penguat iaitu :<br />
1. Datuk Bandaharo (Menteri Utama &amp; Keuangan) di Sungai Tarab<br />
2. Tuan Indomo (Menteri Adat) di Suruaso<br />
3. Tuan Makhdum (Menteri Kerajaan Wilayah Rantau) di Sumanik<br />
4. Tuan Kadi (Menteri Agama) di Padang Ganting, diperkuat oleh<br />
5. Tuan Gadang (Menteri Keamanan &amp; Pertahanan) di Batipuh</p>
<p style="text-align: justify;">Semua berada di Luhak Tanah Datar. Pada abad 17-18, Siak di Rantau Timur mulai melepaskan diri dan mengembangkan kekuasaannya ke utara hingga ke Rokan, Panai, Bilah, Asahan dan Tamiang. Hal ini dimungkinkan oleh kuatnya kerajaan Siak dalam perdagangan dengan Melaka dan Belanda, disamping mulai merosotnya Aceh sesudah Sultan Iskandar Muda mangkat di tahun 1639.</p>
<p style="text-align: justify;">Perluasan daerah rantau kemudian menyeberangi Selat Melaka sehingga jadilah Negeri Sembilan di Semenanjung. Rantau Pesisir Barat yang telah dikuasai Aceh tidak lagi setia kepada Pagaruyung dimana gerakan pemurnian Islam berpusat di Bonjol kelak akan muncul. Rantau Daerah Timur bagaimanapun masih tetap patuh dan setia. Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung pergi ke rantau-rantau ini untuk mengumpul upeti (ufti) 3 kali setahun. Ini berlangsung sampai dengan kebangkitan pemurnian Islam yang memecah Minang menjadi 2 iaitu Kaum Putih/Paderi (Pemurnian Islam) dan Kaum Hitam (Adat), mereka terlibat pertempuran dalam Perang Paderi. 2 Luhak iaitu Agam dan Limapuluh Kota telah tunduk kepada Kaum Putih, tetapi Luhak Tanah Datar bertahan hingga dihancurkan oleh pasukan Paderi dari Tuanku Lelo pada tahun 1809. Munculnya Belanda ke Ranah Minang akhirnya justru menjadi pemenang atas situasi tadi, setelah Pasukan Paderi yang menang Perang Paderi melawan Kaum Adat dihancurkan Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana pun selanjutnya Islam tetap menjadi pedoman Adat Minangkabau, dimana setiap Adat yang tidak sesuai dengan Syarak (Hukum Islam) akan dibuang. Sehingga jadilah pedoman berzaman yang berbunyi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Adat haruslah bersendi atau tunduk kepada Hukum Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">SUMBER :<br />
-Sejarah Minangkabau, MD Mansur – Bharata, Jakarta<br />
-Dasar Falsafah Adat Minangkabau, Muhammad Nasrun – Bulan Bintang, Jakarta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-kerajaan-minang-kabau/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Kerajaan Mori</title>
		<link>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-kerajaan-mori/</link>
		<comments>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-kerajaan-mori/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 22:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lagaligo.net/?p=806</guid>
		<description><![CDATA[Kerajaan Mori adalah salah satu dari sekian banyaknya kerajaan yang ada di Indonesia yang dimana mempunyai banyak Kearifan Lokal Dalam Kebudayaannya. Sama seperti kerajaan- kerajaan lain di Indonesia, kerajaan ini juga dibentuk dan diberikan pengabsahannya berdasarkan kisah-kisah kearifan lokal budaya mori. Awal dari terbentuknya Kerajaan Mori ini berawan dari legenda Mokole Moiki. Ia menikah dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kerajaan Mori adalah salah satu dari sekian banyaknya kerajaan yang ada di Indonesia yang dimana mempunyai banyak Kearifan Lokal Dalam Kebudayaannya. Sama seperti kerajaan- kerajaan lain di Indonesia, kerajaan ini juga dibentuk dan diberikan pengabsahannya berdasarkan kisah-kisah kearifan lokal budaya mori. Awal dari terbentuknya Kerajaan Mori ini berawan dari legenda Mokole Moiki. Ia menikah dengan seorang mokole dari wilayah sekitar Danau Matano, yang disebut Mokole Mohainga. Pernikahan itu memberi pengaruh yang luas terhadap kelompok kaum yang menghuni wilayah sekitarnya. Pemimpin kelompok kaum (para mia mota’u) datang memberi hormat dan memohon menjadi pemimpin mereka, dan bahkan mengajaknya pindah bermukim di negeri mereka dan menjadi yang dipertuan. Sehubungan dengan itu Mokole Moiki dan permaisurinya pindah dan bermukim di Wawontuko dan membangun satu pemerintahan kerajaan yang membawahi sejumlah komunitas kaum yang bermukim di sekitarnya. Mokole Moiki menjadi <span id="more-806"></span>Raja I (Mokole I) dari persekutuan kaum yang membentuk satu pemerintahan itu yang disebut Kerajaan Mori.</p>
<p style="text-align: justify;">Raja Marunduh Datu ri Tana adalah seorang raja yang gagah berani dengan gigih mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Kerajaan Mori dan rakyatnya. Itulah sebabnya ia selalu menentang pernyataan pemerintah kolonial bahwa kerajaannya adalah bagian dari wilayah pemerintah Hindia Belanda. Tindakan personil militer yang suka menghardik rakyatnya, menghina mereka sebagai pekerja yang malas, dan memporakporandakan istana kerajaan itu harus dihukum. Oleh karena itu, raja memanggil para pembesar kerajaan dan tadulako untuk berkumpul di lobo kerajaan. Pada pertemuan itu disepakati memberikan sanksi hukuman mati terhadap aparat militer Belanda itu, dan untuk itu diatur strategi tindakan pengghukuman. Aksi pertama dilakukan pada tanggal 19 Juli 1907 di Matandau. Semua anggota militer dan strapan yang ditinggalkan oleh Letnan B.E. Kies terbunuh. Aksi kedua dilakukan pada tanggal 21 Juli 1907 di Renaitole. Letnan Kies yang meninggalkan pasukannya, dalam perjalanan pulang singgah di Renaitole, karena Letnan H.W. Matthes dan pasukannya berada di kampung itu. Pada aksi ini hampir semua anggota militer dan strapan terbunuh, kecuali seorang strapan yang berhasil meloloskan diri dan kembali ke Kolonodale. Jumlah korban seluruhnya 44 orang, dengan rincian 13 orang tentara Belanda (2 orang berpangkat letnan, 2 orang berpangkat sersan, 1 orang kopral, dan 8 orang prajurit), 21 orang tentara bumiputera, dan 10 orang strapan. Senjata (berjumlah 28 pucuk) dan amunisinya disita.Peristiwa Matandau dan peristiwa Ranoitole ini menjadi pemicu pemerintah kolonial mengirim pasukan marsose untuk menghukum dan menaklukan Kerajaan Mori.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://fritzinfo.wordpress.com/2008/08/10/sejarah-kerajaan-mori/">fritzinfo.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-kerajaan-mori/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Masuknya Kepercayaan Hindu/Budha Di Kerajaan Indonesia</title>
		<link>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-masuknya-kepercayaan-hindubudha-di-kerajaan-indonesia/</link>
		<comments>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-masuknya-kepercayaan-hindubudha-di-kerajaan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 20:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lagaligo.net/?p=804</guid>
		<description><![CDATA[Kerajaan pada jaman dulu sangat dekat dengan kerajaan Hindu dan Budha itu terjadi akibat hubungan dagang antar beberapa Negara yakni India, Cina dan Wilayah Timur tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kerajaan pada jaman dulu sangat dekat dengan kerajaan Hindu dan Budha itu terjadi akibat hubungan dagang antar beberapa Negara yakni India, Cina dan Wilayah Timur tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien<br />
Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien<br />
Pada abad 7 Muncullah 2 Kerajaan besar di jawa yakni Kerajaan Sriwijaya dan kerajaan majapahit. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya <span id="more-804"></span>adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana. Adapun Kerajaan-kerajaan Hindu / Budha Di Indonesia yakni Kerajaan Kutai Kartanegara, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda, Kerajaan Kalingga, Kerajaan Kediri, Kerajaan Singgasari, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Mataram, Kerajaan Melayu Tua Jambi, Kerajaan Sriwijaya</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu_n_budha<br />
Editing : Ahmad Maulana Agung</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lagaligo.net/2008/11/sejarah-masuknya-kepercayaan-hindubudha-di-kerajaan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Daftar Kerajaan Yang  Pernah Ada Di Nusantara</title>
		<link>http://lagaligo.net/2008/11/daftar-kerajaan-yang-pernah-ada-di-nusantara/</link>
		<comments>http://lagaligo.net/2008/11/daftar-kerajaan-yang-pernah-ada-di-nusantara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 20:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Bugis]]></category>

		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lagaligo.net/?p=786</guid>
		<description><![CDATA[A
* Aceh: berada di wilayah utara dari pulau Sumatra, kesultanan Achin atau Atjeh didirikan pada akhir abad ke-15.
* Adonara: kerajaan yang berada di pulau pegunungan berapi yang bernama pulau Adonara di Kepulauan Sunda Kecil.
* Aga Nonsin
* Agang Nionjo
 * Aitoon: kerajaan di pulau Timor Barat.
* Ajer Lebu: kerajaan yang lebih kurang merupakan bawahan dari kesultanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">A</p>
<p style="text-align: justify;">* Aceh: berada di wilayah utara dari pulau Sumatra, kesultanan Achin atau Atjeh didirikan pada akhir abad ke-15.<br />
* Adonara: kerajaan yang berada di pulau pegunungan berapi yang bernama pulau Adonara di Kepulauan Sunda Kecil.<br />
* Aga Nonsin<br />
* Agang Nionjo<br />
<span id="more-786"></span> * Aitoon: kerajaan di pulau Timor Barat.<br />
* Ajer Lebu: kerajaan yang lebih kurang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, berada di wilayah Sumatra.<br />
* Alita: kerajaan yang berada di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan.<br />
* Allah: kerajaan yang berada di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan.<br />
* Amaabi Oefeto: kerajaan di pulau Timor Barat yang terbentuk pada tahun 1917 menjadi kerajaan Kupang yang lebih besar.<br />
* Amabi:kerajaan di pulau Timor Barat yang terbentuk pada tahun 1917 menjadi kerajaan Kupang yang lebih besar.<br />
* Amahei: kerajaan setengah merdeka di barat daya dari Seram di Maluku. Pemimpinnya digelari Raja pada tahun 1960-an.<br />
* Amakono<br />
* Amanatun: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu). Kedaulatan kerajaan diganti pada tahun 1962. Istana Raja dipindahkan dari Nunkolo ke SoE pada tahun 1952.<br />
* Amanuban: Kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu). Istana Raja disebut Sonaf Naik (Istana Besar).<br />
* Amarasi: kerajaan di Timor Barat.<br />
* Ambawang: kerajaan bawahan dari kerajaan Kubu di Kalimantan Barat. Ambawang berusaha menjadi negara merdeka dari Kubu pada tahun sekitar 1800, tetapi tidak diperbolehkan oleh Hindia Belanda yang mengumumkannya pada tahun 1830.<br />
* Ambeno, Ambenu, Ambeno Mosu Talip: kerajaan di Timor Barat.<br />
* Ambeno Kolabe: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu), didirikan oleh orang-orang yang melarikan diri dari Oecussi Ambeno<br />
* Amfoan, Amfoang, Amfoan Naikliu, Amfoan Timau: kerajaan di Timor Barat, awalnya disebut hanya Amfoan, tetapi kemudian pecah menjadi 2 cabang; Amfoan Naikliu dan Amfoan Timau. Raja dari Amfoan Naikliu memerintah hanya pada kota Naikliu dan beberapa desa.<br />
* Ampibabo: kerajaan yang berada di tengah Sulawesi<br />
* Anakalang: kerajaan yang berada di barat dari pulau Sumba<br />
* Andeue dan Lala: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, berada di wilayah Sumatra.<br />
* Arai: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, berada di wilayah Sumatra. Merupakan bagian dari Federasi Hulubalang XII.<br />
* Areë<br />
* Aru atau Haru: kerajaan suku Karo di muara sungai Wampu, Sumatera Utara.<br />
* Arun: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di daerah Meureudu, Sumatra. Merupakan bagian dari Federasi Hulubalang XII.<br />
* Asahan: berada di Sumatra bagian timur, didirikan menjadi sebuah kerajaan pada akhir abad ke-17 oleh anak dari Sultan Aceh.[1]<br />
* Ati Ati: Kerajaan yang berada di bagian timur pulau Irian.<br />
* Atingola: kerajaan di Sulawesi Utara. didirikan tahun 1667 dan ditundukkan pada tahun 1889.</p>
<p style="text-align: justify;">B</p>
<p style="text-align: justify;">* Baa: satu dari 19 kerajaan yang berada di kepulauan Rote, Barat Daya Pulau Timor, dibentuk tahun 1691.<br />
* Bacan: kerajaan seluas 1.600 km² di Kepulauan Maluku yang didirikan pada tahun 1322 oleh orang-orang dari Djailolo (sekarang Jailolo) dan diperintah oleh pemimpin Islam sejak abad ke-16, yang kemudian bergelar Sultan.<br />
* Bada: kerajaan di Sulawesi Tengah<br />
* Badung: kerajaan yang dibentuk karena kejatuhan Majapahit, setelah Dewa Agung Ketut, penguasa Bali dan Lombok membagi kerajaannya untuk ke-9 anak-anaknya. Wilayahnya saat ini menjadi Kabupaten Badung.<br />
* Bagoh<br />
* Bait: kerajaan kecil di Timor Barat<br />
* Baju: kerajaan yang merupakan bagian dari Kesultanan Aceh di daerah Sumatra.<br />
* Balangnipa: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667.<br />
* Balatu: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667.<br />
* Balepe: kerajaan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan.<br />
* Bali dan Lombok<br />
* Bambel: kerajaan yang merupakan bagian dari Kesultanan Aceh di daerah Sumatra.<br />
* Bambi dan Oenoë, Bambi dan Unu: kerajaan yang merupakan bagian dari Kesultanan Aceh di Sigli. Merupakan bagian dari Federasi Hulubalang VI.<br />
* Banasu: kerajaan di Sulawesi Tengah.<br />
* Banawa: kerajaan di Sulawesi Tengah, yang dibentuk pada 1667.<br />
* Bancea dan Puumbolo: kerajaan di Sulawesi Tengah, bagian dari Poso.<br />
* Bandahara<br />
* Banga: kerajaan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan.<br />
* Banggai: kerajaan di Pulau Banggai di tenggara Sulawesi.<br />
* Bangkala: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan, ditundukkan pada tahun 1863.<br />
* Bangkalan: kerajaan seluas 354 km² di Pulau Madura yang menurut legenda didirikan oleh Raja Majapahit terakhir. Penguasa pertama pada tahun 1530 adalah anak dari Pangeran Palakaran, awal abad ke-16.<br />
* Bangli: kerajaan yang didirikan setelah kejatuhan Majapahit, setelah Dewa Agung Ketut, Penguasa Bali dan Lombok membagi kerajaannya.<br />
* Banjar: kerajaan di Kalimantan Selatan yang mungkin didirikan akhir abad ke-14 oleh Empu Djamatka dari Hindustan, memeluk Islam pada 1520.[2]<br />
* Bantam<br />
* Banten: didirikan awal abad ke-16 saat kejatuhan Majapahit.<br />
* Bantjea dan Puumbolo<br />
* Barang Barang: kerajaan di Sulawesi Selatan, didirikan pada 1667.<br />
* Barnusa: kerajaan di bagian barat dari Pulau Pantar, sebelah barat Pulau Alor. Kekuasaan terpisah menjadi dua marga yaitu Baso dan Blegar.<br />
* Barru: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.<br />
* Baruija: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.<br />
* Barus: kesultanan yang didirikan oleh Dinasti Pardosi. Wilayahnya memanjang dari Mandailing Natal sampai Tarumon di Singkil.[3]<br />
* Barusjahe: kerajaan di Sumatera Timur.<br />
* Battoise<br />
* Batu Baharang Urung (Federasi)<br />
* Batu Kankung: kerajaan di Sumatera Barat.<br />
* Batulapa: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.<br />
* Batulicin: kerajaan di Kalimantan Selatan.<br />
* Batulolong: kerajaan di Pulau Pantar, sebelah barat Pulau Alor.<br />
* Batu Mbulan<br />
* Batuputih<br />
* Bau: kerajaan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan.<br />
* Beboki: kerajaan di Timor Barat.<br />
* Bedagei: kerajaan seluas 337.52 km² Sumatera Timur, bagian dari Kesultanan Deli.<br />
* Bedahulu atau Bedulu: kerajaan kuno di Gianyar, Bali, sekitar abad ke-8 sampai ke-14.<br />
* Belu: federasi kerajaan di Timor Barat.<br />
* Bendjoar<br />
* Benu: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu).<br />
* Berau, Berouw: kerajaan di Kalimantan Timur.<br />
* Berutas<br />
* Besiana: kerajaan di Timor Barat.<br />
* Besitan: kerajaan seluas 165 km² Sumatra Timur.<br />
* Besoa: kerajaan di Sulawesi Tengah.<br />
* Beubasan<br />
* Beutong: kerajaan bawahan dari Kesultanan Aceh.<br />
* Biboki<br />
* Bila: kerajaan di Sumatera Timur.<br />
* Bilba: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote.<br />
* Bima: kerajaan yang eksis pada abad ke-17 di Pulau Sumbawa.[4]<br />
* Binamo, Binamu: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan, dibangun pada tahun 1864 sebagai pengganti Turatea dan dikuasai oleh Belanda pada 1906.<br />
* Bingei: kerajaan seluas 94.53 km² di Sumatra Timur.<br />
* Bintamo: kerajaan di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.<br />
* Bintauna: kerajaan di Barat laut Sulawesi.<br />
* Binuang: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Selatan.<br />
* Birumaru: kerajaan di Sulawesi Tengah, bersatu dengan Dolo dari 1908 menjadi Dolo Birumaru, kemudian terpisah dan bergabung dengan Sigi dari 1915 sampai 1929 menjadi Sigi Birumaru.<br />
* Blagar: kerajaan di sebelah tenggara Pulau Pantar, arah barat Pulau Alor.<br />
* Blambangan: kerajaan yang ada pada akhir era Majapahit di daerah Blambangan, selatan Banyuwangi.<br />
* Blangmangat: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.<br />
* Blangme, Blang Meh: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.<br />
* Blang Pedir, Blangpidie: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.<br />
* Blayu: kerajaan di Bali yang terletak di kecamatan Marga, Tabanan.<br />
* Bluek: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.<br />
* Boalemo: kerajaan di Sulawesi Utara, ditundukkan Belanda pada 1889.<br />
* Bobasan: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.<br />
* Boga Sukudua: kerajaan di daerah Sumatera Timur.<br />
* Bohorok: kerajaan seluas 19.92 km² Sumatra Timur.<br />
* Bokai: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote. Didirikan 1756.<br />
* Bolaäng Itang: negara kota di Sulawesi Utara, bersatu dengan Kaidipang tahun 1912 menjadi Kaidipang Besar.<br />
* Bolaäng Mongondow: kerajaan di Sulawesi Utara yang bergabung tahun 1568 dengan Ternate dan menjadi bagian pada tahun 1677. Tonsawang, Pasan, Ratahan, Povosakon dan sebagian Bantik membayar uptei ke Bolaäng pada 1697.</p>
<p style="text-align: justify;">* Bolaäng Uki: negara kota di Sulawesi Utara.<br />
* Bolano: kerajaan di tengah daerah Moutong, Sulawesi Tengah.<br />
* Bone: di daerah Bugis, Sulawesi Selatan. didirikan pada 1634, ditundukkan Belanda pada 1905 dan dikembalikan pada 1931.[5]<br />
* Bonea: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.<br />
* Bonerate: kerajaan di Pulau Bonerate, Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.<br />
* Bontobangun: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk pada 1667.<br />
* Bontobatu<br />
* Buakaju: kerajaan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan.<br />
* Bubon: kerajaan di Sumatera.<br />
* Buging dan Bagoh: kerajaan di bawah Kesultanan Aceh.<br />
* Buket<br />
* Buleleng: kerajaan yang dibangun sebagai akibat dari kejatuhan Majapahit, setelah Dewa Agung Ketut, penguasa Bali dan Lombok membagi kerajaannya.[6]<br />
* Bulo Bulo: kerajaan di Sulawesi Selatan.<br />
* Bulungan, Boelongan: kerajaan di Kalimantan Timur, Bagian dari Berau pada abad ke-19.<br />
* Bungku: kerajaan di Sulawesi Tengah, merdeka dari Ternate pada 1900.<br />
* Buntubatu: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.<br />
* Bunut: kerajaan di Kalimantan Barat.<br />
* Buol: negara kota di Sulawesi Tengah, didirikan pada 1660.<br />
* Buton: kerajaan yang didirikan sebelum 1550 di Pulau Buton, di tenggara Sulawesi. Sejak 1886, memiliki 3 keturunan sultan yaitu: Kaum Tanailandutak, Kaum Tapitapitak dan Kaum Kumbewahatak.</p>
<p style="text-align: justify;">C</p>
<p style="text-align: justify;">* Campa: kerajaan di Vietnam bagian selatan.<br />
* Cantung: kerajaan di Kalimantan Selatan.<br />
* Cenrana: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Barat.<br />
* Ceranti<br />
* Cirebon: kerajaan yang didirikan pada tahun 1478 sebagai akibat dari kejatuhan Majapahit.<br />
* Cumbok<br />
* Cunda</p>
<p style="text-align: justify;">D</p>
<p style="text-align: justify;">* Dafalu: kerajaan di Timor Barat.<br />
* Daha: kerajaan Hindu yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan.<br />
* Dehla: satu dari 19 kerajaan di kepulauan Rote, Barat daya Pulau Timor. Dehla melepaskan diri dari Oenale dan didirikan pada tahun 1800-an.<br />
* Deli: kerajaan seluas 1,820 km² di timur Sumatera dan didirikan pada tahun 1630. Kerajaan antara tahun 1630 sampai 1814, berubah menjadi kesultanan tahun 1814 ketika memperoleh kemerdekaan dari Kerajaan Siak.[7]<br />
* Demak: kerajaan Islam pertama di Jawa, didirikan di Demak pada tahun 1478 oleh Raden Patah.<br />
* Denai: kerajaan kota seluas 46 km² di timur Sumatra.<br />
* Dengka: kerajaan terbesar dari 19 kerajaan yang berada di Pulau Rote.<br />
* Denpasar<br />
* Dharmasraya: kerajaan yang terletak di selatan Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, Sumatera Barat, dan di utara Jambi. Memiliki persahabatan erat dengan Majapahit dengan perkawinan kedua putrinya, Dara Jingga dan Dara Petak dengan Raja dan bangsawan Majapahit.<br />
* Dimu<br />
* Dirma: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu). Kadang merupakan bagian dari Federai Belu.<br />
* Diu: satu dari 19 kerajaan di Pulau Rote, kadang berada di bawah kekuasaan Korbafo, didirikan pada 1691.<br />
* Djailolo<br />
* Djambi<br />
* Djongkong<br />
* Dolago: kerajaan di Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah.<br />
* Dolo: kerajaan di Sulawesi Tengah. Dolo pernah bergabung dengan Rindau dan Kaleke dari tahun 1650 sampai 1890, dengan Birumaru dari 1908 menjadi Dolo Birumaru sampai Birumaru memisahkan diri.<br />
* Dolok Silau: kerajaan di Sumatra Timur.<br />
* Dompu: kerajaan di Pulau Sumbawa<br />
* Donggala<br />
* Federasi Duri</p>
<p style="text-align: justify;">E</p>
<p style="text-align: justify;">* Edi Besar (keakuratan dipertanyakan)<br />
* Edi Tjoet (keakuratan dipertanyakan)<br />
* Mukims Sama Indra VIII dan Lhok Kaju (keakuratan dipertanyakan)<br />
* Ende: kerajaan kepulauan di kepuluan Flores<br />
* Enjung: kurang lebih adalah kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, didaerah Sumatera. Kerajaan ini adalah bagian dari federasi Hulubalangs XII dari Pedir.<br />
* Enrekang: kerajaan di wilayah Bugi di Celebes Selatan.<br />
* Faan: kerajaan di pulai Kei Kecil, kepulauan Kei di Maluku. (keakuratan dipertanyakan)</p>
<p style="text-align: justify;">F</p>
<p style="text-align: justify;">* Fatagar: kerajaan yang berada di timur Papua.<br />
* Fatu Leu: kerajaan di Timor Barat, dibentuk tahun 1912<br />
* Fialarang: kerajaan merdeka atau setengah merdeka di Timor Barat (Timor Loro Manu). Kadang-kadang dianggap menjadi bagian dari federasi Belu.<br />
* Foenay: kerajaan di Timor Barat yang terbentuk tahun 1917</p>
<p style="text-align: justify;">G</p>
<p style="text-align: justify;">* Gajo Lues<br />
* Galesong: kerajaan di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan.<br />
* Gaura: kerajaan di pulau Sumba.<br />
* Gebang: kerajaan bawahan dari Kesultanan Cirebon, di Jawa.<br />
* Gedong, Geudong: kerajaan yang dibentuk abad ke-16, bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* Gelgel: kerajaan di pulau Bali yang terbentuk setelah runtuhnya Majapahit. Kerajaan ini menganggap dirinya sebagai penerus sejati Majapahit.<br />
* Geumpang: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* Gianyar: kerajaan yang dibentuk setelah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, pemimpin Bali dan Lombok membagi kerajaan besarnya menjadi beberapa kerajaan di antara 9 miliknya.<br />
* Gighen: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sigli Sumatra. Kerajaan ini adalah bagian dari Federasi Hulubalang VI dari Gighen.<br />
* Gigiëng<br />
* Glumpangduwa<br />
* Glumpang Pajong: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sigli Sumatra.<br />
* Goa atau Gowa: kerajaan yang berada di wilayah Makassar di barat daya Sulawesi, sebelum tahun 1300.[8]<br />
* Gorontalo: Kerajaan di Sulawesi Utara, didirikan tahun 1667.<br />
* Gresik<br />
* Gunung Sahilan: kerajaan yang mempunyai luas 359.12 km² di Sumatra timur.<br />
* Gunung Mutis: kerajaan yang ada di Timor Barat (Timor Loro Manu), bawahan kerajaan Mollo.<br />
* Gunungtabur: kerajaan di Kalimantan Timur, dibentuk dari kerajaan Berau yang dibagi menjadi 2 kerajaan.</p>
<p style="text-align: justify;">H</p>
<p style="text-align: justify;">* Harneno: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu). Keturunan dari kerajaan Beboki<br />
* Haruku: kerajaan kepulauan di Ambon timur, Maluku Tengah<br />
* Heba<br />
* Helong<br />
* Henda Heti<br />
* Holontalo<br />
* Hitu: kerajaan yang terletak di Pulau Ambon, Maluku, masa kejayaannya berkisar antara tahun 1470 sampai dengan 1682 dengan rajanya yang bergelar Upu Latu Sitania.</p>
<p style="text-align: justify;">I</p>
<p style="text-align: justify;">* Iboih: kerajaan yang kurang lebih bawahan dari kesultanan Aceh, di pulau Weh, daerah Sigli, Sumatra.<br />
* Idi Besar: kerajaan yang kurang lebih bawahan dari kesultanan Aceh, di pulau Weh, Sumatra.<br />
* Idi Cut<br />
* Idi Ketjil<br />
* Idi Rajeu, Idi Rajut<br />
* Idi Tjut: kerajaan yang kurang lebih bawahan dari kesultanan Aceh, di pulau Weh, Sumatra.<br />
* Ilot: kerajaan yang kurang lebih bawahan dari kesultanan Aceh, di pulau Weh, Sumatra.<br />
* Indamar: kerajaan kecil di Sumatra barat.<br />
* Inderapura (Sri)<br />
* Indragiri: kerajaan di Sumatera Timur, didirikan 1639, merdeka dari Johor tahun 1745<br />
* Inderapura: kerajaan dengan luas 62 km² di Sumatera Timur, dibentuk oleh kerajaan-kerajaan seperti Tanjung, Tanjung Kassau, Si Pare Pare dan Pagurawan, di bawah jabatan raja Tanjung.<br />
* Insana: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu)</p>
<p style="text-align: justify;">J</p>
<p style="text-align: justify;">* Jailolo: kesultanan di Pulau Halmahera di Maluku Utara. kerajaan utama sebelumnya adalah Jailolo paad 1322, tetapi pada 1380, Ternate memegang kekuasaan atas pulau tersebut.<br />
* Jambi: kerajaan seluas 53,206 km² di selatan Sumatera, didirikan pada 1690 dan dikuasai Belanda pada 1901.<br />
* Janggala: salah satu dari dua kerajaan pecahan Kahuripan tahun 1049 (satu lainnya adalah Kadiri), yang dipecah oleh Airlangga untuk dua puteranya.<br />
* Jangka Buda<br />
* Jarewea<br />
* Jenilu: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu).<br />
* Jodjakarta<br />
* Jolok Ketjil: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.<br />
* Jongkong: kerajaan di Kalimantan Barat<br />
* Julo Cut, Julo Tjut: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.<br />
* Julo Rajeu: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.<br />
* Juluk Tjut</p>
<p style="text-align: justify;">K</p>
<p style="text-align: justify;">* Kota V di Mudik (keakuratan dipertanyakan)<br />
* Kota V di Tengah (keakuratan dipertanyakan)<br />
* Kuta V (keakuratan dipertanyakan)<br />
* Kota IV di Ilir (keakuratan dipertanyakan)<br />
* Kota IV di Mudik (keakuratan dipertanyakan)<br />
* Kota IV Rokan Kiri (keakuratan dipertanyakan)<br />
* Kadiri, Kediri: kerajaan yang bercorak Hindu di Jawa Timur, berdiri sekitar tahun 1045-1221. Disebut juga dengan nama Panjalu atau Dhaha.<br />
* Kahuripan: kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1019. Kerajaan ini dibangun dari sisa-sisa istana Kerajaan Medang yang telah dihancurkan oleh Sriwijaya pada tahun 1019.<br />
* Kaidipang Besar: kerajaan kota di Sulawesi Utara, dibentuk tahun 1912 sebagai hasil dari penggabungan kerajaan Kaidipang dan Bolaäng Itang.<br />
* Kalao: kerajaan dari kepulauan Kalao, terletak di Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667.<br />
* Kalaota: kerajaan di pulau Kalaota, di Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667.<br />
* Kale<br />
* Kaleke<br />
* Kalibawang: Kerajaan merdeka yang dibentuk tahun 1831 oleh Sultan Yogyakarta untuk cucu dari Sultan Abdul Rahman Amangku Buwono II (keakuratan dipertanyakan).<br />
* Kalingga: kerajaan bercorak Hindu di Jawa Tengah, yang pusatnya berada di daerah Kabupaten Jepara sekarang.<br />
* Kalungkung<br />
* Kambera: kerajaan di pulau Sumba.<br />
* Kampong Raja: kerajaan di Sumatera, didirikan tahun 1630 oleh anak dari Raja Bila.<br />
* Kanatang: kerajaan di pulau Sumba.<br />
* Kandhar<br />
* KangaE: kerajaan di pulau Flores.<br />
* Kanjuruhan: kerajaan bercorak Hindu di Jawa Timur, yang pusatnya berada di dekat Kota Malang sekarang<br />
* Kapunduk: kerajaan yang berada di timur dari pulau Sumba.<br />
* Karang: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di daerah Tamiang, Sumatra.<br />
* Karangasem: kerajaan yang dibentuk setelah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, penguasa Bali dan Lombok membagi kerajaannya menjadi beberapa kerajaan di antara 9 miliknya.[9]<br />
* Kasa: kerajaan di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan.<br />
* Kasiman<br />
* Kasimbar: kerajaan di Sulawesi Tengah.<br />
* Kassa<br />
* Kassiman<br />
* Kawai XVI: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* Kawali<br />
* Kayaudi: kerajaan di Sulawesi Selatan, dibentuk tahun 1667<br />
* Kejuruan Muda: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di daerah Tamiang, Sumatra.<br />
* Keka: satu dari 19 kerajaan di kelompok Pulau Rote, barat daya dari Timor. Keka melepaskan diri dari Termanu tahun 1772.<br />
* Kendahe: kerajaan di Sulawesi Utara, dibentuk tahun 1521 di pulau Sangir dan menjadi kabupaten dari Kendahe Tahuna dari tahun 1896 sampai 1950.<br />
* Keo<br />
* Kepanuhan: kerajaan di Sumatera Timur.<br />
* Kerambitan<br />
* Kesiman, atau Kessiman<br />
* Keumala: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh. kerajaan ini merupakan bagian dari federasi Hulubalangs VI.<br />
* Keumangan: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh. kerajaan ini merupakan bagian dari federasi Hulubalangs VI.<br />
* Keureutu: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh.<br />
* Kewar: kerajaan setengah merdeka di Timor Barat (Timor Loro Manu). Sejarah Kewar nampaknya berhubungan dengan Lamaknen.<br />
* Kilang: dinasti turunan dari raja-raja Majapahit di Jawa. 3 bersaudara masing-masing membentuk kerajaan Soya, di puncak gunung Sirimau, kerajaan Nusaniwe, dan kerajaan Kilang.<br />
* Kisar: kerajaan pulau di utara dari Timor Timur, nama lokalnya Yotowawa dan kadang disebut juga Kisser.<br />
* Klein Sonbait<br />
* Kluang: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh.<br />
* Klumpang Duwa: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra<br />
* Klumpang Pajong: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh. kerajaan ini merupakan bagian dari Federasi Hulubalangs VI.<br />
* Klungkung: kerajaan utama yang lahir sesudah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, pemimpin Bali dan Lombok membagi kerajaannya menjadi beberapa kerajaan di antara 9 miliknya.<br />
* Kobi<br />
* Kodi Belagar: kerajaan di pulau Sumba<br />
* Kodi Bengado: kerajaan di pulau Sumba<br />
* Kodi Besar: kerajaan di pulau Sumba<br />
* Kolaka: kerajaan di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini adalah bawahan dari Luwu, yang juga memelihara hubungan yang kuat dengan Laiwui.<br />
* Kolana: kerajaan di pulau Alor. Kolana bergabung dengan Pureman dan Erana di tahun 1932.<br />
* Konaweha: kerajaan di Sulawesi Selatan.<br />
* Kondeha: kerajaan di Sulawesi Selatan.<br />
* Korbafo: satu dari 19 kerajaan di kelompok kepulauan Rote, barat daya dari Timor.<br />
* Kota Besar: kerajaan di Sumatra Barat.<br />
* Kota Intan<br />
* Kota Lama<br />
* Kota Pinang: kerajaan yang mempunyai luas 1,859 km² di Sumatera Timur, didirikan tahun 1630 oleh anak dari Raja Bila.<br />
* Koying: kerajaan tertua di pulau Sumatera abad ke-3 sampai ke-5, berpusat di Jerangkang Tinggi, pinggir Danau Kerinci di Jambi<br />
* Kotawaringin: kerajaan yang didirikan pada tahun 1679 di Kalimantan Tengah.<br />
* Kruengpase: kerajaan yang merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* Krueng Sabe, atau Krung Sabil: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* Krueng Seumideuen: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sigli, Sumatera. kerajaan ini merupakan bagian dari Federasi Hulubalangs VI.<br />
* Kuala Bateo: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatera.<br />
* Kualuh dan Leidong: kerajaan yang didirikan pada tahun 1868 untuk Tuanku Namatu&#8217;llah, cucu dari Raja Musa Shah, Sultan Asahan[10]<br />
* Kuantan: kerajaan di Riau, Sumatra, merupakan tempat asal muasal raja-raja Pagaruyung. Setiap terjadi pergolakan di Pagaruyung maka Kuantan merupakan tempat perlindungan yang paling aman bagi raja-raja Pagaruyung untuk menyelamatkan diri sambil mengatur siasat. Salah seorang rajanya adalah tTuanku Pandak Yang Dipertuani Kuaantan memerintah pada abad ke-16.p Dia mempunyai seorang anak perempuan bernama Puti Cahaya Korong yang menikah dengan Yang Dipertuan Bukit Tarok.<br />
* Kubu: kerajaan yang dibentuk tahun 1772 di Kalimantan Barat dan memiliki kaitan erat dengan Kesultanan Pontianak.[11]</p>
<p style="text-align: justify;">* Kuet: kerajaan bawahan dari kesultanan Aceh.<br />
* Kui: kerajaan di pulau Alor.<br />
* Kulawi: kerajaan kota di Sulawesi Tengah, dibentuk tahun 1915<br />
* Kuntodaressalam: kerajaan dengan luas 2.450 km² di Sumatera Timur, dibentuk dari kerajaan Kota Intan dan Kota Lama.<br />
* Kupang: suatu federasi yang dibentuk tahun 1917 yang disusun oleh kerajaan Amabi, Amaabi OEfeto, Foenay, Kupang Helong, Sonbai Kecil dan TaEbenu dengan seorang raja terpilih.[12]<br />
* Kupang Helong: kerajaan di Timor Barat yang dibentuk tahun 1917 menjadi kerajaan Kupang yang lebih besar dengan Amaabi OEfetto, Amabi, Foenay, Sonbai Kecil dan TaEbenu.<br />
* Kuripan: kerajaan kuno yang beribukota di kecamatan Danau Panggang, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.<br />
* Kusa: kerajaan di Timor Barat.<br />
* Kutabuluh: kerajaan di Sumatera Timur.<br />
* Kutai Kartanegara ing Martadipura: kesultanan di Kalimantan Timur yang awalnya berpusat di Kutai Lama, kemudian menguasai Kutai Martadipura.[13]<br />
* Kutai Martadipura: kerajaan hindu di Kalimantan Timur, dengan rajanya yang terkenal Mulawarman, pusat kerajaan terletak di Muara Kaman.[13]<br />
* Kuwala Batu<br />
* Kuwalu dan Ledong: kerajaan di Sumatera Timur</p>
<p style="text-align: justify;">L</p>
<p style="text-align: justify;">* Labakkang: kerajaan dan kota di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini dibentuk abad ke-16 dan ditindas pada tahun 1892 sewaktu menjadi bagian dari Pangkajene.<br />
* Labala: kerajaan di selatan pulau Lomblem atau Lembata.<br />
* Labuhanhaji: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra. Tanah jajahannya adalah Kota Tring, Pelokkan, Kamumu (atau Kenumu), dan Pelumat.<br />
* Lage: kerajaan di Sulawesi Tengah, bawahan dari Posso.<br />
* Lageuen: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* Laikang: kerajaan di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan.<br />
* Laisolat: kerajaan di Timor Barat.<br />
* Laiwui: kerajaan di Sulawesi Barat.<br />
* Lakatang: kerajaan dan kota di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan.<br />
* Lakekun: kerajaan di Timor Barat<br />
* Lakoka: kerajaan di pulau Sumba<br />
* Lakoon<br />
* Lala<br />
* Lamahala: kerajaan di pulau Adonara. Lamahala digabung ke Larantuka pada tahun 1932.<br />
* Lamakera: kerajaan di pulau Solor, dibentuk setelah pemisahan kerajaan Solor menjadi dua, Lohayong dan Lamakera.<br />
* Lamaknen<br />
* Lamaksenulu: kerajaan merdeka atau setengah merdeka di Timor Barat (Timor Loro Manu). Kadang-kadang menjadi bagian dari ferasi Belu.<br />
* Lambeusu: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra<br />
* Lambu<br />
* Lamuru: kerajaan bawahan dari Bone, wilayah Bugis, Sulawesi Selatan. Didirikan tahun 1609.<br />
* Landak: kerajaan di Kalimantan Barat yang merdeka tahun 1478 sesudah keruntuhan kerajaan Majapahit.<br />
* Landu: kerajaan yang paling tua dari 19 kerajaan kelompok pulau Rote, terletak di barat-day Timor.<br />
* Langkat: kerajaan dengan luas 3.336 km² di Sumatera Timur. Didiriikan tahun 1721.[14]<br />
* Langsa, Langsar: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* Lapai: kerajaan di Sulawesi Selatan.<br />
* Larantuka: kerajaan dengan luas 3.330 km² di kepulauan Flores, ditemukan tahun 1400.<br />
* Lauli: kerajaan di pulau Sumba.<br />
* Laura: kerajaan di pulau Sumba.<br />
* Lawajong<br />
* Laweueng<br />
* Lawonda: kerajaan di pulau Sumba.<br />
* Ledong, Leidong<br />
* Lelain: satu dari 19 kerajaan di kelompok pulau Rote, barat-day Timor. Sebelum Lelain menjadi kerajaan terpisah sendiri tahun 1690, Lelain melepaskan diri dari Bokai.<br />
* Lelenuk: satu dari 19 kerajaan di kelompok pulau Rote, barat-day Timor. Kerajaan melepaskan diri dari Termanu dan dibentuk tahun 1772<br />
* Lengkese: kerajaan kota di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan.<br />
* Lepan: kerajaan di Sumatera Timur dengan luas 31 km²<br />
* Leukon, Leukuen: kerajaan di pulau Simeulue, di wilayah Sumatra, tunduk kepada Belanda pada tahun 1880.<br />
* Lewa: kerajaan di pulau Sumba.<br />
* Lhokbubon: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* Lhok Kaju<br />
* Lhokkruet: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* Lhokpawoh Utara: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* Lhokpawoh Selatan: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* Lhok Rigaih<br />
* Lhokseumawe: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* LiaE: kerajaan yang berada di wilayah pulau Sawu.<br />
* Lidak: kerajaan di bagian timur dari Timor Barat.<br />
* Lilinta: kerajaan di barat dari Papua.<br />
* Lima Laras: kerajaan dengan luas 202 km² di Sumatera Timur. Lima Laras membentuk federasi Batu Bahara Urung.<br />
* Lima Puloh: kerajaan dengan luas 148 km²di Sumatra Timur. Lima Puloh membentuk federasi Batu Bahara Urung.<br />
* Limboto: kerajaan kota di Sulawesi Utara, ditemukan tahun 1667 dan ditekan tahun 1895.<br />
* Lindai: kerajaan di Sumatera Timur.<br />
* Lingga-Riau: kerajaan Riau di Sumatera Timur yang didirikan tahun 1720 sebagai jajahan dari kesultanan Johor. tahun 1824, kesultanan Lingga dibentuk.[15]<br />
* Linggo: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh.<br />
* Lio: kerajaan di pulau Flores.<br />
* Lise: kerajaan di pulau Flores.<br />
* Logas<br />
* Lohayong: kerajaan di pulau Solor, dibentuk dari pemisahan kerajaan Solor menjadi 2 kerajaan.<br />
* Lok Semawe<br />
* Loleh: satu dari 19 kerajaan di kelompok pulau Rote, barat-daya Timor. Dikuasai oleh Termanu tahun 1730.<br />
* Lombok: kerajaan pulau di Bali yang menjadi merdeka setelah keruntuhan kerajaan Majapahit, sesudah Dewa Agung Ketut, pemimpin Bali dan Lombok membagi kerajaannya menjadi beberapa.<br />
* Lore<br />
* Lubuk Ambacang: kerajaan di Sumatera Timur, dibentuk dari pemisahan kerajaan Kuantan menjadi 5 kerajaan.<br />
* Lubuk Jambi: kerajaan di Sumatera Timur, dibentuk dari pemisahan kerajaan Kuantan menjadi 5 kerajaan.<br />
* Lubuk Ramo: kerajaan di Sumatera Timur, dibentuk dari pemisahan kerajaan Kuantan menjadi 5 kerajaan.<br />
* Luwu: kerajaan yang didirikan sebelum tahun 1600 di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan.</p>
<p style="text-align: justify;">M</p>
<p style="text-align: justify;">* Madura: kerajaan di daerah Madura, Jawa Timur, dengan tokoh terkenalnya Joko Tole da Trunojoyo<br />
* Maiwa: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan, didirikan pada 1685.<br />
* Majapahit: kerajaan terbesar pada masanya yang menguasai nusantara, berpusat di Jawa Timur.<br />
* Majene: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Barat.<br />
* Makale: satu dari 3 kepangeranan utama di luar 14 di daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.<br />
* Makassar<br />
* Makier: kerajaan merdeka atau semi-merdeka di Timor Barat.<br />
* Malaka<br />
* Malimbong: kerajaan di derah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.<br />
* Malua<br />
* Malusetasi: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.<br />
* Maluwa: kerajaan kota di derah Bugis, Sulawesi Selatan. Pernah menjadi anggota Federasi Duri.<br />
* Mambulu: kerajaan di Sulawesi Selatan.<br />
* Mampawa<br />
* Mamuju: kerajaan di daerah Mandar, Sulawesi Barat.<br />
* Manbait<br />
* Mandalle: kerajaan kota di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.<br />
* Mandeo: kerajaan merdeka atau semi-merdeka di Timor Barat.<br />
* Manganitu: kerajaan di Sulawesi Utara, didirikan pada 1521 dan menjadi regenschap (&#8221;kabupaten&#8221;) dari 1911 sampai 1950 dengan Manganitu sebagai ibukota.<br />
* Manggarai: kerajaan di Pulau Flores, berdiri dari 1759. Dari 1762 s.d. 1815 dan dari 1851 s.d. 1907, Manggarai merupakan bagian dari Kesultanan Bima.<br />
* Manggeng: kerajaan bawahan Kesultanan Aceh.<br />
* Mangkunagaran: kerajaan seluas 2.579,98 km² yang didirikan pada 17 Maret 1757 di Kasunanan Surakarta.[16]<br />
* Manjuto atau Pamuncak Tigo Kaum: kerajaan di daerah ulu, dengan raja bernama Tuanku Magek Bagonjong, pusat kerajaan di Jerangkang Tinggi - Pulau Sangkar, Kerinci Jambi<br />
* Manoletten: kerajaan di Timor Barat.<br />
* Manubait: kerajaan di Timor Barat.<br />
* Mapia: kerajaan di utara Papua, di pulau Mapia.<br />
* Mappa: kerajaan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.<br />
* Marang: kerajaan kota di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.<br />
* Marioriawa: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan.<br />
* Marioriwawo: kerajaan di daerah Bugis, Sulawesi Selatan. Jajahan dari Soppeng.<br />
* Maros: kerajaan di barat daya Sulawesi, bawahan dari Gowa.<br />
* Massu Karera: kerajaan di pulau Sumba.<br />
* Matan: kerajaan di Kalimantan Barat.<br />
* Matangkuli: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.<br />
* Mataram Kuno:sebuah kerajaan Hindu-Budha di Yogyakarta.<br />
* Mataru: kerajaan di pulau Alor, yang kemudian digabungkan oleh Belanda pada 1932 menjadi kerajaan yang lebih besar.<br />
* Maukatar: kerajaan merdeka atau semi-merdeka di Timor Barat.<br />
* Maumutin: kerajaan di Timor Barat.<br />
* Mbuli: kerajaan di pulau Flores.<br />
* Medang:<br />
* Mehara<br />
* Melabuh<br />
* Melayu Jambi: lihat Dharmasraya<br />
* Melayu Tua-Jambi: lihat Dharmasraya<br />
* Meliau: kerajaan di Kalimantan Barat.<br />
* Melolo: kerajaan di pulau Sumba.<br />
* Membawang<br />
* Membora: kerajaan di pulau Sumba.<br />
* Mempawah: kerajaan di Kalimantan Barat.<br />
* Mengkendek: satu dari 3 kepangeranan utama di luar 14 di daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan.<br />
* Mengwi: kerajaan di Bali<br />
* Menia: kerajaan di pulau Sawu.<br />
* Menjili: kerajaan di pulau Sumba.<br />
* Menungul: kerajaan di Kalimantan Timur.<br />
* Merdu<br />
* Mesara: kerajaan di pulau Sawu.<br />
* Me Tareuen: kerajaan bawahan kesultanan Aceh.<br />
* Meuke: kerajaan seluas 353 km² yang merupakan bawahan kesultanan Aceh.<br />
* Meulaboh<br />
* Meureubok<br />
* Meureudu: kerajaan bawahan kesultanan Aceh, di daerah Meureudu, Sumatera.<br />
* Minangkabau: kesultanan terkuat di Sumatera abad ke-12 sampai abad ke-17.<br />
* Miomaffo: kerajaan di Timor Barat.<br />
* Misool: kerajaan di pulau Misool, bawahan dari Tidore.<br />
* Moko Moko: kerajaan di Sumatera Barat.<br />
* Mollo: kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu), pembentukan dari negara Netpala, Nunbena dan Besiana.<br />
* Mori: kerajaan di Sulawesi Barat yang merdeka dari Ternate pada 1900.<br />
* Mori: sebuah kerajaan di Sulawesi Tengah.<br />
* Moutong: kerajaan di Sulawesi Utara.<br />
* Mukih<br />
* Muna: Kerajaan di Sulawesi Tenggara<br />
* Musa: kerajaan bawahan kesultanan Aceh. Sebelumnya merupakan Federasi Hulubalang XII.</p>
<p style="text-align: justify;">N</p>
<p style="text-align: justify;">* Nage: kerajaan di kepulauan Flores, dibentuk tahun 1919 oleh penggabungan kerajaan Nage dan Keo.<br />
* Naitemu: kerajaan di Timor Barat.<br />
* Nanggulan: kerajaan yang dibentuk oleh Sultan Yogyakarta tahun 1831.<br />
* Napu (Sulawesi): kerajaan di Sulawesi Tengah.<br />
* Napu (Sumba): kerajaan di pulau Sumba.<br />
* Ndao: satu dari 19 kerajaan di kelompok kerajaan di pulau Rote, Barat-daya dari Timor.<br />
* Ndjohor<br />
* Ndjong<br />
* Ndona: kerajaan di kepulauan Flores.<br />
* Nduri: kerajaan di kepulauan Flores.<br />
* Nenometa, Nenomatan: Kerajaan di Timor Barat.<br />
* Netpala: Kerajaan di Timor Barat.<br />
* Ngada: kerajaan di kepulauan Flores.<br />
* Nggela: kerajaan di kepulauan Flores.<br />
* Nieuw Brussel<br />
* Koto IX: Kerajaan di Timor Barat.<br />
* Mukims Keumangan IX<br />
* Nisam: kerajaan yang kurang lebih merupakan bawahan dari kesultanan Aceh, di wilayah Sumatra.<br />
* Nita: kerajaan di kepulauan Flores.<br />
* Njong<br />
* Noimuti: Kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu)<br />
* Nokas<br />
* Nunbena: Kerajaan di Timor Barat (Timor Loro Manu)<br />
* Nusaniwe: dinasti turunan dari raja-raja Majapahit dari Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">O</p>
<p style="text-align: justify;">* OEnale: satu dari 19 kerajaan di Kepulauan Rote, barat daya Timor.<br />
* Oenoe<br />
* OEpao: satu dari 19 kerajaan di Kepulauan Rote, barat daya Timor. Didirikan tahun 1691.<br />
* OndaE dan Pebato: kerajaan di Sulawesi Tengah. Bawahan dari kerajaan Posso.<br />
* Ossipaka, atau Ossipoko</p>
<p style="text-align: justify;">P</p>
<p style="text-align: justify;">* Padang: sebuah kerajaan kota di Sumatera Barat, rajanya adalah Tuanku Rajo Bujang yang memerintah pada tahun 1778, ia berasal dari Suku (sub-klan) Jambak, Padang.<br />
* Padang Lawas: kerajaan di Sumatera Barat.<br />
* Padang Tarab: kerajaan di Sumatera Barat.<br 