Home > Budaya, Bugis, I La Galigo > La Galigo : Phinisi dari tanah beru

La Galigo : Phinisi dari tanah beru

July 19th, 2008

Phinisi lagaligoSemula, mungkin tidak percaya jika sebuah perahu kayu sederhana, mampu mengarungi lautan Samudra Hindia yang dikenal memiliki ombak besar. Adalah nelayan suku Bugis Makassar, yang dikenal sejak puluhan tahun silam sebagai pelaut ulung, mengarungi lautan luas Samudra Hindia menggunakan perahu kayu (perahu layar). Suku asal Sulawesi Selatan ini memiliki catatan tersendiri dalam sejarah bahari, saat mengarungi ribuan kilometer lautan luas dari Indonesia hingga Madagaskar di Afrika Selatan, abad silam. Mereka memiliki keberanian dan kemampuan mengarungi lautan dengan perahu layar, antar pulau di Indonesia maupun samudra yang memiliki entakan ombak besar untuk menjaring ikan maupun berdagang hasil bumi.

Pelayarannya dari Indonesia ke Madagaskar menggunakan perahu layar yang sejauh ini tetap populer, yakni perahu kayu jenis pinisi. Perahu ini mencatatkan ketangguhannya dalam menembus dan mengarungi gelombang besar lautan Samudra Hindia yang jaraknya ribuan kilometer.

Suku Bugis Makassar yang merantau ke sana dengan menggunakan perahu jenis pinisi saat itu, kini keturunannya telah menjadi “mukimin” dan menjadi bagian komunitas warga Madagaskar. Diperoleh catatan, selain perahu jenis pinisi yang dikenal tangguh, terdapat jenis perahu lain yang biasa dipergunakan nelayan Bugis. Perahu Pinisi sendiri, merupakan jenis perahu dagang yang memiliki ukuran paling besar (20 sampai 100 ton), dibanding jenis-jenis perahu lainnya. Jenis perahu ini mampu mengarungi dan menjelajah lautan besar. Memiliki dua tiang agung (sokoguru-red) dilengkapi masing-masing layar besar yang menjadi layar utama, ditambah layar kecil pada masing-masing puncak tiang agung. Sementara kemudinya, terpasang pada bagian belakang.

Pada abad silam, perahu jenis pinisi juga dipergunakan untuk mengangkut bala tentara. Namun tidak dipergunakan untuk perang laut. Pinisi sebagai perahu niaga, dipimpin oleh seorang ana’koda (nakhoda). Kemudian juru mudi, juru batu serta awak perahu yang disebut sawi.

Jenis perahu lainnya, adalah jenis Lambo Palari. Jenis ini lebih kecil dari pinisi, bobotnya (10 - 50 ton). Perbedaan lain dengan pinisi, Lambo hanya memiliki satu tiang agung dan layar utama, ditambah layar berlapis-lapis di bagian depan dan di puncak tiang agung. Jenis serupa Lambo Palari adalah Lambo Calabai.

Kemudian jenis perahu lainnya, yang ukurannya lebih kecil adalah jenis Jarangka, Soppe dan Pajala. Jenis-jenis perahu yang lebih kecil ini mempergunakan layar segi empat yang mampu bergerak lincah mengarungi lautan. Dipergunakan untuk mengangkut barang dagangan antar pulau sekitar Sulawesi Selatan, selain dipergunakan nelayan untuk menangkap ikan jauh ke tengah lautan. Awak perahu Pajala berbeda dengan perahu dagang. Perahu nelayan ini, dipimpin seorang punjala (pemimpin dan pengemudi perahu -red).

Perajin Tana Beru
Dari berbagai sumber catatan yang diperoleh “PR” mengenai pembuatan perahu pinisi menyebutkan, dewasa ini walau para pembuat kapal kayu motor sudah tersebar di pelosok nusantara, adalah perajin perahu di Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan yang tetap mempertahankan tradisi dalam pembuatan pinisi. Disinilah salah satu lokasi kemegahan pinisi dilahirkan.

Tana Beru banyak memproduksi kapal pinisi. Kapal yang sampai sekarang masih banyak dipakai untuk melayari laut nusantara. Para pembuat perahu tradisional disini, secara turun-temurun mewarisi tradisi kelautan nenek moyangnya. Sebuah upacara ritual biasa dilakukan untuk memulai sebuah proses pembuatan perahu. Para perajin, sebelum memulai pekerjaannya, terlebih dahulu harus mencari hari atau waktu terbaik pencarian kayu sebagai bahan baku. Hari baik untuk mencari bahan baku, adalah pada hari kelima dan ketujuh pada bulan berjalan. Angka lima, diartikan rezeki sudah di tangan. Sedangkan angka tujuh berarti selalu dapat rezeki. Setelah dapat hari baik, kepala tukang, baru kemudian memimpin pencarian bahan baku (kayu).

Pohon yang akan ditebang juga tak boleh sembarangan. Sebelumnya harus digelar upacara khusus, bertujuan untuk mengusir roh penghuni kayu tersebut. Untuk kebutuhan mengusir roh, seekor ayam dijadikan korban untuk dipersembahkan kepada roh. Pemotongan yang dikerjakan menggunakan gergaji, harus dilakukan sekaligus tanpa berhenti. Itu sebabnya untuk melakukan pemotongan harus dikerjakan oleh orang yang bertenaga kuat. Bila balok bagian depan (yang tidak dipergunakan) sudah putus, potongan itu harus dibuang ke laut. Potongan itu menjadi benda penolak bala yang melambangkan suami yang siap melaut untuk mencari nafkah. Sedang potongan balok bagian belakang disimpan di rumah, sebagai lambang istri pelaut yang setia menunggu suami pulang dan membawa rezeki.

Jumlah seluruh papan dasar untuk perahu pinisi adalah 126 lembar. Setelah papan teras tersusun, diteruskan dengan pemasangan buritan tempat meletakkan kemudi bagian bawah. Apabila badan perahu sudah selesai dikerjakan, dilanjutkan dengan pekerjaan memasukkan majun pada sela papan. Agar sambungan antarpapan merekat kuat, dipakai bahan perekat dari sejenis kulit pohon barruk. Kemudian dilakukan pendempulan. Bahan dempul terbuat dari campuran kapur dan minyak kelapa. Campuran ini diaduk dan dibiarkan selama 12 jam. Untuk kapal berbobot 100 ton, diperlukan 20 kg dempul badan kapal. Setelah seluruh proses pembuatan selesai, proses terakhir kelahiran pinisi adalah peluncurannya. Saat peluncuran ini, digelar prosesi khusus. Misalnya, untuk perahu dengan bobot kurang dan 100 ton, prosesi khusus ditandai dengan memotong seekor kambing. Sedangkan untuk kapal 100 ton ke atas, seekor sapi.

Pemasangan tiang dan layar, baru dilakukan setelah pinisi sudah mengapung di laut. Dan kapal yang diluncurkan ini sudah siap dengan awaknya.
Peluncuran kapal dilaksanakan pada waktu air pasang saat matahari sedang naik. Selain beberapa jenis perahu, juga terdapat alat (jaring) penangkap ikan yang sampai sekarang masih tetap dipergunakan nelayan Bugis. Perahu jenis pinisi, menjadi lambang keberanian anak bangsa dalam mengarungi lautan. Dalam abad 20 ini, pinisi kembali membuktikan ketangguhan melayari samudra, di antaranya mengikuti expo Vancouver di Kanada. Selain ekspedisi Amana Gappa, mengarungi Samudra Hindia menuju Madagaskar.

Sumber : Click Disini

Budaya, Bugis, I La Galigo , ,

  1. July 19th, 2008 at 20:43 | #1

    no pertamaaax, lagian pinisi ga pake pertamax ya bro :D

    wogh artikelnya komplit ne :D

    hmmm lagu nenek moyangku seorang pelaut keknya cocok disematkan buat orang bugis ne. ternyata selain pinisi yang udah kesohor masi ada juga tipe perahu lain hmmmm……

  2. July 20th, 2008 at 00:18 | #2

    Memang tidak salah ada istilah ‘nenek moyangku seorang pelaut’ ya. Sejarah membuktikan bahwa nenek moyang kita memang sangat ahli di laut dan menguasai lautan.

    Rafki RSs last blog post..Wordpress 2.5 VS wordpress 2.6

  3. July 20th, 2008 at 02:33 | #3

    wah ternyata nggak kalah hebatnya ama “black pearl” nya “Jack Sparrow” di film “pirates of carribbean” :D

  4. July 20th, 2008 at 08:11 | #4

    Nenek moyangku orang pelaut….
    Kapal Phinisi ini yang dipakai nenek moyang kita untuk menaklukkan samudera….

    sapimotos last blog post..Bandwidth Telkom Speedy Naik

  5. July 20th, 2008 at 08:32 | #5

    Ass.

    Menurut cerita babe gue dulu, pelaut bugis memang Ahlinya dalam mengarungi SAMUDRA…….terkenal di mana-mana

    Alexs last blog post..KLARIFIKASI

  6. July 20th, 2008 at 11:08 | #6

    keren dann salut deh sama pelaut Bugis..aku mah kena ombak aja udah mual :(
    Tonys last blog post..Pilihan Yang Sulit….

  7. July 20th, 2008 at 11:09 | #7

    Soal laut dan kapal… Bugis emang top. Jadi… saya ndak heran kalo orang Bugis… selalu ada dimana-mana.

    serdadu95s last blog post..Sekilas Info ttg Peringatan ke-61 Hari Bhakti TNI AU

  8. July 20th, 2008 at 15:21 | #8

    ho’o…saingannya orang bugis cm orang batak ama jawa…ada di mana-mana euy…he..he..

    mikes last blog post..Heboh Hepatitis A di Jogja!

  9. July 20th, 2008 at 23:29 | #9

    saya pernah baca juga tentang sejarah orang mula-mula pakai perahu, tapi sekilas info. tulisan ini bagus, sangat menambah wawasan. ok

    Zulmasris last blog post..Yo Ngeblog, Yo Bagi Ilmu

  10. July 21st, 2008 at 04:39 | #10

    Thanks For all
    Memang nenek moyang orang bugis itu dikenal sebgai pelaut ulung :D
    saya cuman mau menyampaikan budaya bugis menurut orang bugis sendiri

    Sukses untuk semua

  11. July 21st, 2008 at 06:08 | #11

    yah nenek moyang kita emang pelaut

    bocahisengs last blog post..Keyword gue gak banget??

  12. July 21st, 2008 at 06:20 | #12

    Wah asik juga phinisi itu, saya juga dulu lulusan Perkapalan
    dari ITS tahun 1991, hehehe
    tapi gak bisa buat kapal pak,
    takut tenggelam.

  13. July 21st, 2008 at 07:23 | #13

    kira2 ada yg berani ngikutin nenek moyang kita yg kayak gituan ga ya?

  14. July 21st, 2008 at 07:50 | #14

    Bugis memang terkenal dengan pelautnya sejak dulu. Kapal Pinisi menjadi sejarah kebanggaan nusantara.

    laporans last blog post..Tidur di Jalan

  15. July 21st, 2008 at 08:50 | #15

    Wew info yang manthap.. blog ini juga menarik… keep rockin bro

    Zalukhus last blog post..Blog Cantik Dari Blogger Cantik

  16. July 21st, 2008 at 14:07 | #16

    Bugis yaa..? hmm… jadi begitu toh ceritanya.. *baru baca nih* hehe..
    meskipun saya orang sulawesi juga, tapi ngga begitu banyak tau.
    thanks tulisannya mas Ahmad :)

  17. July 21st, 2008 at 14:31 | #17

    Yupz nenek moyakku adalah pelaut…! :D

  18. July 21st, 2008 at 20:22 | #18

    senang ada hal dengan nilai yang membanggakan, masih dipertahankan oleh masyarakatnya.

    salam kenal, bung!

    nichs last blog post..Kopdar BloggerSUMUT (lagi)

  19. July 22nd, 2008 at 01:07 | #19

    Tetangga saya di Balikpapan juga 80% orang Bugis. Dari 80% itu 80% nya adalah pelaut….

    ‘Nins last blog post..Dalam Sebuah Perjalanan

  20. July 22nd, 2008 at 03:59 | #20

    Wah penjelasan yang panjg…
    Tana Beru itu kalau di Sulawesi Selatan.

    Kalau di Jawanya Tanah Baru ya Mas..??
    Soalnya baru denger Tana Beru, kalau Tanah Baru sering.
    :)

  21. July 22nd, 2008 at 08:47 | #21

    nenek moyang kita memang raja lautan..
    akhirnya karena ketakutan Belanda pada armada Mataram saat itu, mereka mengalihkan mata pencaharaian nelayan waktu itu menjadi petani. Mereka takut jikalau perahu nelayan tersebut nantinya akan digunakan sebagai armada laut. Sejak saat itu kita terninabobokan sehingga menjadi masyarakat agraris.
    kapan kita mau menjadi raja lautan lagi??
    salam

    made ekas last blog post..Bandung dari atas Jembatan Surapati

  22. July 22nd, 2008 at 17:50 | #22

    dalam ingatan saya, bugis sangat identik dg pelaut ulung, mas. kapal phinisi yang digunakan mampu mengarungi samudra menjadi bukti otentik. semoga akan terus tercatat dalam tinta emas dalam sejarah negeri ini.

    sawali tuhusetyas last blog post..Sepasang Tanduk Bertengger di Kepalaku

  23. July 22nd, 2008 at 23:40 | #23

    wah memang dari dulu tuh bugis sangat hebat buktinya dia tersebar dimana-mana apalagi dalam negeri hampir semu orang Bugis ada…nyambung ga sih??? *lari aja ah*

  24. July 23rd, 2008 at 03:14 | #24

    dengan bahan-bahan alami dan kreatifitas, bisa mengarungi samudra di dunia. terima kasih infonya, ces:)

    saya link blog ta, nah?

    megacules last blog post..bilyard itu indah

  25. July 23rd, 2008 at 05:03 | #25

    saya mbok ya diajak naik perau pinisi..
    eh, nama praunya kok mendekati porno ya.. hehe.. dasar otak ngeres!

  26. July 23rd, 2008 at 17:42 | #26

    @bocahiseng : betul mas

    @Petani Berlayar : wahhh jurusan perkapalan yah mas kenapa enggak coba buat kapal mas

    @yusdi : huahahhahh paling yang mengikuti melaut klo memang kerjaan mereka di laut mas. Karena klo mereka mau berlayar dilaut bebas bisa2 ditangkap dituding imigran gelap wkwkwkwk

    @laporan : terima kasih mas

    @Zalukhu : terima kasih mas

    @yu2n : sama2 mbak

    @hakimtea : iya mas hakim :D

    @nich : salam kenal balik mas

    @Nin : iya bugis tuh identik dengan perantauan

    @Izul Cyber Cafe : huahahhahha mas izul bisa aja nih

    @made eka : bahaya mask lo mau jadi raja laut lagi bisa2 dikira imigran gelap wkwkwkwkwkwk

    @sawali tuhusetya : terima kasih mas

    @pencuri kode : betul kang noval klo bugis itu identik dengan rantauan

    @megacule : terima kasih jug aces. Silahkan kita link :D

    @ndöp : wahhh mas ndop nih pikirannya kotor *kepala kecatok

  1. July 23rd, 2008 at 14:21 | #1