Review Buku : “Mencari Jejak Amarah”
ADALAH hidup yang harus dijalani meski bagaikan sebuah permainan puzzel karena ada banyak pertanyaan yang kadang tidak memiliki sebuah jawaban dan jawaban kadang hadir walau tanpa pertanyaan.
MAKA kita harus rasional berpikir bahwa jangan hanya memaknai hidup untuk memperjuangkan periuk tapi sebenarnya ada yang lebih penting yaitu memperjuangkan keadilan.
ADALAH keadilan yang merupakan simbolitas kemerdekaan yang tidak dibatasi baik oleh keakuan sebuah identitas diri. Sebab hidup menjadi bermakna ketika mampu menyumbang milik paling berharga yang kita miliki.
RIILNYA bahwa nyawa adalah harga tertinggi yang kumiliki saat ini dan tidak ada nilai tukar apapun lagi atas nilainya
AKU pernah mendengar perempuanku mengatakan, “Aku ingin mati syahid dan aku pun demikian. Sama sepertinya. Aku tidak ingin mati dengan kesiaan.”
HANYA pergorbanan itu bisa kulakukan saat ini karena aku ingin meninggalkan jejak yang akan dikenang sepanjang masa.
MI itu adalah sumber inspirasiku yang kini menjadi perempuanku dan selamanya akan menjadi perempuanku.
UNTUKNYA kutinggalkan jejak-jejakku dan akan menjadi catatan panjang yang tidak akan terlupakan karena telah terbingkai dalam balutan sejarah
Rasmi Ridjang Sikati
Buku Mencari Jejak Amarah Jilid 2 Hal (274)
Novel itu diberi judul MENCARI JEJAK AMARAH. Terdiri dari dua buku. Buku satu terdiri dari lembaran 1 sampai 21 dan buku dua dimulai lembaran 22 sampai lembaran 37.
Dari judulnya saja, kita bisa langsung menarik kesimpulan jika ternyata Amarah masih menjadi sebuah misteri. Dan pemilihan judul oleh penulisnya adalah pilihan yang tepat karena Amarah bagaikan misteri tidak terpecahkan.
Amarah telah meninggalkan jejak dan jejak itu harus ditelusuri kembali untuk mencari jawaban tentang sebuah peristiwa besar yang pernah terjadi di tanggal 24 April 1996.
Tanggal dimana telah merenggut tiga nyawa mahasiswa UMI. Mereka adalah Saiful Biya, Andi Sultan Iskandar, dan Tasrif Daming. Mereka dinyatakan meninggal karena tidak bisa berenang. Tapi satu dari tiga orang itu, Saiful Biya, ternyata pandai berenang.
Amarah juga menjadi sebuah rebutan gerakan. Begitu banyak organisasi dan lembaga di dalam Kampus UMI yang menyatakan merekalah pertama yang mengencarkan aksi penolakan terhadap SK 900 yang dikeluarkan oleh Wali Kota Makassar Malik B Masry tentang kenaikan tarif angkot.
Ilutrasi Tragedi AMARAH 24 April 1996
nsiden diawali dengan demonstrasi oleh mahasiswa Makassar pada tanggal 24 April 1996 yang menolak pemerintah menaikkan tarif angkot yang dirasa sangat memberatkan masyarakat pada saat itu. Instruksi kenaikan tarif angkot yang berawal dari SK Menteri Perhubungan tanggal 3 April 1996 ditindaklanjuti oleh Wali Kota Ujungpandang (sekarang Makassar) Malik B. Masry dengan mengeluarkan SK bernomor 900/1V/1996 dan tanpa disosialisasikan secara maksimal kepada masyarakat. (SK tersebut akhirnya juga disebut sebagai “SK Maut” yang mengantar kematian 3 mahasiswa UMI Makassar). Kenaikan tarif angkot yang akhirnya berdampak pada sektor lain membuat masyarakat merasa tercekik oleh harga-harga kebutuhan pokok dan kebutuhan transportasi. Fenomena tersebut kemudian respon oleh para mahasiswa dengan melakukan aksi turun ke jalan. Mereka merasa mempunyai tanggung jawab moral sebagai Agent of Change. Beberapa mahasiswa yang ikut ambil bagian dari aksi tersebut berasal dari beberapa perguruan tinggi, antara lain UMI, Universitas 45, STIMIK Dipanegara, UVRI, IAIN Alaudin, STIE YPUP.
Ratusan prajurit diterjunkan ke lapangan untuk “melawan” aksi mahasiswa. Kata-kata makian yang dilontarkan para demonstran pada aparat membuat ratusan aparat merangsak masuk ke kampus UMI dan membabi buta mengejar mahasiswa. Dengan dilengkapi persenjataan lengkap layaknya maju dalam pertempuran perang yang sebenarnya, aparat seolah-olah melakukan show of force di dalam kampus. Pengejaran yang dilakukan aparat membuat mahasiswa merasa terjepit di dalam kandang mereka sendiri. Ratusan mahasiswa berusaha menceburkan diri ke sungai yang menjadi batas wilayah kampus mereka. Sungai Pampang, itulah nama sungai yang akhirnya 3 mahasiswa yang namanya tersebut di atas ditemukan tewas mengenaskan di sana. Membacanya kita langsung menghela nafas panjang, betapa kampus hijau bernuansa islami disulap menjadi medan latihan tempur para aparat militer dengan persenjataan lengkap dan dibantu dengan Panser, sedangkan sparing partner-nya hanya sekelompok demonstran yang hanya bersenjatakan “kata”, poster dan batu sebagai tameng petahanan diri.
Seperti dalam kasus-kasus serupa yang terjadi yang pernah saya dengar atau baca, pemerintah dan petinggi militer selalu berusaha cuci tangan atas pengusutan kasus yang terjadi dan prajurit selalu menjadi pion-pion catur untuk dikorbankan dan dijadikan kambing hitam oleh atasan mereka. “Prajurit vs mahasiswa/demonstran”, murni seperti itu yang diinginkan petingi-petinggi militer karena mereka tidak pernah mau disalahkan ataupun bertanggungjawab atas apa yang terjadi ketika terjadi bentrokan yang melibatkan aparat. Lagi-lagi, masyarakat tidak pernah puas atas hasil pengusutan dan akan semakin bertanya-tanya, menggantungkan tanda tanya yang besar dalam otak mereka tentang siapa yang harus bertanggungjawab. 6 prajurit TNI dijadikan tumbal oleh atasan mereka untuk bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Mereka dituding sebagai prajurit yang lalai ketika menjalankan tugas.
Rasmi Ridjang Sikati, si penulis buku yang juga berprofesi sebagai wartawan berusaha obyektif dan tidak mencari-cari kambing hitam atas permasalahan tersebut, berbekal pengalaman pribadi, kesaksian korban dan bukti di lapangan. Mahasiswa memang tidak bisa sepenuhnya dibenarkan dan aparat memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Namun, arogan memang seolah-olah menjadi karakter yang sangat kuat yang tertanam dalam tubuh institusi militer pada masa orde baru dan anarkis memang menjadi karakter mahasiswa pada masa menjelang runtuhnya orde baru. Gaya tulisan buku yang bersifat naratif membuat kita akan semakin terbawa dalam imajinasi dan suasana peristiwa tersebut. Gambar dan foto koleksi yang dilampirkan akan semakin membuat kita semakin miris, seakan-akan membangkitkan jiwa kita semasa menjadi mahasiswa untuk kembali “bergerak”. Cerita dalam buku ini menambah satu catatan dalam daftar kekerasan yang melibatkan mahasiswa sebagai wakil rakyat dan aparat militer sebagai tameng politik pemerintahan orde baru di mana duelisme kedua belah pihak tersebut selalu memunculkan equalisasi “Otak VS Otot”.
Gelandangan : Bila Satra tidak ada maka sejarah akan punah
Sumber :
Blog Rasmi Ridjang Sikati
Rumah Kaca



wekji!
Arrrgh!! jangan teruskan,. mad, bacaan itu terlalu berat buatku,.
ampuuun… ampunnnnn… saya tak akan mampu membacanya…. hihihi
Weh harus melakukan perenungan mendalam neh.
haaa iya keknya bacaan berat… musti nunggu mood yang bagus buat baca
Bacanya nggak berat kok. Malah romantis banget